Upaya Konkret dalam Mewujudkan Keberagaman Bahasa sebagai Identitas Kolektif ASEAN

Dr. Luh Anik Mayani (Direktur SEAMEO QITEP in Language) bersama dengan Prof. Dr. Multamia RMT Lauder (Guru Besar Departemen Lingusitik, Universitas Indonesia (UI)), H.E. M.I. Derry Aman (Duta Besar/Wakil Tetap RI untuk ASEAN) dan Prof. Evi Fitriani, PhD (Guru Besar Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia (UI)) menjadi pembicara pada Webinar Bahasa dan Diplomasi: Meninjau Prospek Internasionalisasi Bahasa Indonesia di ASEAN.

Webinar ini diselenggarakan pada Kamis [26/04] melalui ruang Zoom dan siaran langsung  YouTube oleh Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia bekerja sama dengan Departemen Lingusitik. Adapun pembahasan menarik yang dibawakan oleh para pembicara pada kesempatan ini berfokus pada upaya yang telah dan akan dilakukan untuk mewujudkan identitas kolektif ASEAN melalui internasionalisasi bahasa di kawasan regional, serta keuntungan yang didapat dalam mempelajari bahasa negara anggota ASEAN.

Sebelum menuju bahasan pokok mengenai upaya pewujudan identitas kolektif ASEAN melalui bahasa, Luh Anik menyajikan data pemelajar BIPA di ASEAN yang menunjukkan bahwa Thailand dan Timor Leste memiliki peminat terbanyak, yakni dengan 44 lembaga belajar BIPA. Luh Anik menerangkan bahwa setidaknya terdapat lima tujuan belajar Bahasa Indonesia yang diambil dari riset pemelajar BIPA di Thailand, yakni untuk melebarkan pangsa pasar di Indonesia, melanjutkan studi, memiliki relasi dengan orang Indonesia, menjalin kemitraan dengan instansi di Indonesia, serta untuk menjalin koneksi dengan orang Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam yang memiliki kemiripan bahasa penuturnya dengan Bahasa Indonesia. Luh Anik menambahkan “Kalau kita lihat alasannya, ini relevan dengan alasan mengapa Bahasa Indonesia ini sering dikaitkan dengan Bahasa Melayu. Jadi mereka (pemelajar) mengatakan jika mampu berbahasa Indonesia, itu artinya mereka juga mampu berkomunikasi dengan orang Malaysia, Singapura, dan Brunei, serta (terdapat) alasan internal lainnya adalah (karena) Bahasa Indonesia mudah dipelajari.”

Luh Anik menjelaskan upaya yang telah dilakukan dalam memperjuangkan Bahasa Indonesia di ASEAN

Karena telah mendapati data pemelajar BIPA di ASEAN, Luh Anik mengatakan bahwa Bahasa Indonesia pernah diupayakan untuk menjadi identitas kolektif ASEAN saat pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-18 di Jakarta dan 19 tahun 2011 di Bali ketika Indonesia menjadi ketua ASEAN. Luh Anik menambahkan bahwa, sayangnya, pada KTT ASEAN upaya pembentukan identitas kolektif ASEAN melalui bahasa rupanya tidak masuk dalam prioritas pembahasan. Luh Anik menambahkan bahwa, selain itu, terdapat upaya lain di tahun yang sama yakni dalam pertemuan parlemen negara ASEAN, delegasi RI penuh pendirian mengusulkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN karena banyak digunakan oleh penduduk ASEAN. Namun, dalam data yang disajikan oleh Luh Anik, Filipina langsung menyatakan keberatan dengan usulan tersebut karena hanya 5% dari penduduknya yang mampu berbahasa Indonesia, yakni di wilayah Moro dan sekitarnya saja.

Namun demikian, untuk melanjutkan perjuangan bangsa Indonesia dalam mengenalkan dan mengajarkan Bahasa Indonesia di tingkat internasional, Luh Anik menyampaikan bahwa SEAQIL dan Kemendikbudristek telah berkolaborasi untuk melaksanakan program pembelajaran dan kegiatan ke-BIPA-an dengan menyasar pemelajar Warga Negara Asing (WNA) yang tercantum dalam cetak biru Rencana Aksi Nasional (RAN) 2025 Pilar Sosial Budaya ASEAN sebagai langkah konkret pertama. Luh Anik menambahkan bahwa secara eksplisit Kemendikbudristek telah menunjuk SEAMEO QITEP in Language dan Sekretariat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sebagai instansi utama pelaksana pemelajaran BIPA.

Selain itu, Luh Anik menyampaikan bahwa SEAQIL juga memiliki langkah konkret dalam mengkaji riset kebijakan bahasa yang bernama, Language Policy and Language Education in Southeast Asia yang berlangsung pada 2021 hingga diperkirakan selesai pada 2023. “Nantinya, hasil penelitian ini akan memetakan minat generasi muda ASEAN untuk mempelajari bahasa (negara anggota) ASEAN. Jika peta ini sudah kita dapatkan, tentu kita akan melihat bagaimana generasi muda ASEAN ini meminati bahasa (negara anggota) ASEAN, Bahasa Indonesia sebagai Penutur Asing misalnya,” imbuh Luh Anik.

Selain Luh Anik, terdapat pula 3 pembicara lainnya, yakni Derry Aman, Prof. Evi Fitriani, dan Prof. Multamia RMT Lauder. Derry Aman, Duta Besar RI untuk ASEAN, menyampaikan bahwa sejauh ini belum ada negara anggota ASEAN yang secara resmi menyampaikan usulan untuk menambah atau mengganti bahasa kerja ASEAN. Jika pun ada, Derry menambahkan bahwa, penambahan atau penggantian bahasa kerja ASEAN harus melalui amandemen ASEAN Charter secara konsensus. Prof. Multamia, Guru Besar Linguistik UI, menuturkan bahwa kenyataan saat ini apabila Bahasa Indonesia dijadikan bahasa antarbangsa ASEAN akan menyullitkan bagi orang-orang selain penduduk Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, sehingga masih menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kerja ASEAN. Prof. Evi Fitriani, Guru Besar Hubungan Internasional UI, berpendapat bahwa jika para ilmuwan Indonesia menghasilkan ilmu yang luar biasa dan ditulis dalam Bahasa Indonesia, maka orang asing akan belajar Bahasa Indonesia secara otomatis untuk mempelajari ilmu tersebut. “Hal itu terjadi karena mereka (orang asing) melihat keuntungan dalam belajar Bahasa Indonesia (yakni) untuk mendapat ilmu” imbuh Prof. Evi.


Luh Anik bersama Prof. Evi Fitriana, Prof. Multamia, dan Derry Aman memberikan pernyataan penutup.

Setelah melihat dari sudut pandang Hubungan Internasional, Luh Anik berkesempatan menyampaikan kesimpulannya pada akhir acara bahwa kebijakan penggunaan bahasa sebagai identitas kolektif ASEAN dapat ditunjukkan dengan saling mempelajari bahasa negara tetangga, sehingga akan menjadi keberagaman yang lebih indah daripada memaksakan untuk menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN. Maka, Luh Anik menambahkan bahwa, dengan itu bisa menerapkan konsep take and give untuk mendapatkan keuntungan dari mempelajari suatu bahasa. “ASEAN ini daerah yang multilingual, multikultural. Jadi, penguasaan bahasa di ASEAN tentu akan meningkatkan pemahaman lintas budaya di ASEAN itu. Mari kita gunakan bahasa sebagai penguat identitas ASEAN,” imbuh Luh Anik. (FL/MR)

×