(Dr. Luh Anik Mayani memaparkan presentasi Aktivitas Pra-Membaca yang Menyenangkan bagi Siswa PAUD)
Dr. Luh Anik Mayani (Direktur SEAQIL) bersama dengan Dr. Elis Rosdiawati (Wakil Direktur SEAMEO CECCEP), Dr. Sumardiyono (Direktur SEAQIM), dan Dr. Indrawati (SEAQIS) sukses mengadakan “Pembelajaran Menyenangkan pada Masa Pra-Membaca, Numerasi, dan Keterampilan Ilmiah”, sebuah acara perbincangan dari SEAMEO CECCEP, Kamis (10/3). Acara tersebut diadakan melalui Zoom dan kanal YouTube SEAMEO CECCEP, yang juga dihadiri oleh tenaga pendidik dari seluruh wilayah Indonesia.
Pada pembukaannya, Wakil Direktur SEAMEO CECCEP, Dr. Elis Rosdiawati menjelaskan, ada karakteristik pembelajaran anak usia dini. Salah satu metode pembelajaran adalah siswa saling belajar melalui interaksi dengan lingkungannya. “Oleh karena itu, kemampuan bahasa, sosial-emosional, dan lainnya akan meningkat pesat jika kita memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersosialisasi dengan orang-orang, dengan barang-barang, dengan mainan, dan dengan alat-alat di sekitar mereka” tambahnya.
Pada kesempatan ini, Luh Anik memaparkan kemampuan berbahasa melalui Aktivitas Pra-Membaca yang Menyenangkan bagi Siswa PAUD. Menurutnya, dalam hal ini, terdapat dua definisi dari aktivitas pra-membaca yakni, aktivitas anak (usia 1-3 tahun/PAUD) yang belum bisa membaca dan aktivitas sebelum anak-anak membaca (buku, sebagainya). Dengan ini, meningkatkan kemampuan komunikasi seharusnya disertai dengan berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif. Ia menjelaskan lebih dalam mengenai enam contoh praktis dari aktivitas pra-membaca.

(Luh Anik mempresentasikan metode “Membacakan Cerita”)
Pertama, ia menyebutkan mengenai aktivitas membacakan cerita. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki tujuan, seperti menambah ketertarikan membaca buku, memperkaya kosa kata, dan meningkatkan imajinasi. Selain itu, ia juga menjabarkan tips ketika akan membacakan cerita, diantaranya (1) berikan anak kesempatan memilih, (2) beri pilihan buku yang sesuai dengan usia anak, (3) pilih buku dengan bahasa yang sederhana dan udah dipahami anak, (4) pilih buku bergambar / unik untuk menarik perhatian anak, (5) baca buku dengan cara yang atraktif, (6) tentukan kesepakatan sebelum guru mulai bercerita, (7) semua anak dapat melihat buku dengan baik, (8) semua anak mendapat giliran yang salam untuk berbicara. Ia menyimpulkan, “Dalam hal ini, jika kita berbicara soal Joyful, ada dua hal yang mungkin diperhatikan, yaitu sesuai dengan usia anak dan apa yang kita berikan itu mudah dipahami.”
Kedua, untuk menstimulasi kemampuan anak, Luh Anik mengatakan bahwa aktivitas mengurutkan dan mencocokkan gambar bisa dilakukan. Selain menstimulus, kegiatan ini dapat mengenalkan huruf atau bunyi kepada anak secara kontekstual dan mencocokkan bunyi dan simbol huruf secara bertahap. Sebagai stimulus, ia membagikan tips bahwa guru dapat memilihkan aktivitas sesuai dengan keseharian anak, mengurutkan gambar sesuai deskripsi, menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh anak, menyertakan gambar yang bisa didasarkan sesuai deskripsi tersedia atau dapat menceritakan sesuai dengan kesehariannya secara kontekstual. “Ketika kita melihat contoh (praktis) seperti ini, Joyful bisa kita maknai bahwa bahan yang kita pakai itu penuh gambar dan warna sehingga menarik perhatian murid kita.” Imbuhnya
Sebagai strategi ketiga, ia menerangkan bahwa penemuan sebab akibat juga dapat menjadi pengajaran dalam masa pra-membaca. Menurut manfaat yang ia paparkan, aktivitas ini dapat melatih logika/kemampuan berpikir anak, manambah kosa kata, meningkatkan kemampuan motoric (menggambar), dan kemampuan komunikasi (berbicara). Beberpa tips menarik pun yang ia sampaikan untuk menunjang aktvitas ini, diantaranya (1) (hubungkan) sebab akibat yang berhubungan dengan keseharian anak, (2) berikan beberapa contoh, lalu anak bisa menggambarnya (tidak harus menulis), (3) anak menuturkan kejadian yang digambarnya, (4) anak menyimpulkan sebab-akibat dari aktivitas mendengar bacaan dari guru dan temannya. Ia mengimbuhkan, “Dalam konteks ini, Joyful akan saya maknai sebagai pembelajaran yang challenging atau menantang.”
Strategi selanjutnya adalah menebak objek yang dapat melatih aktivitas berbahasa seperti membuat pertanyaan, kalimat sederhana, berpikir kritis logis dalam mendeskripsikan objek. Tips yang ia berikan diantaranya, dengan memberikan pilihan tema bagi anak untuk memilih objek deskripsi, membuat pelajaran menarik dengan mengajak anak membentuk kelompok pendeskripsi dan penebak, berikan waktu yang cukup untuk berdiskusi, tetapkan aturan permainan. “Ketika kita mendefinisikan Joyful, maknanya interaktif, seru begitu, karena ada aktivitas bertanya – menjawab di antara para siswa ” tambahnya.
Kelima, ia menjelaskan, “Tunjukkan dan Ceritakan” dapat menjadi alternatif pembelajaran. Adapun manfaat dari kegiatan ini yang bisa melatih kemampuan anak membuat putusan, menambah kedekatan anak dengan teman-teman, mengetahui kesukaan anak, meningkatkan kemampuan komunikasi (berbicara, bertanya, dan menjawab), dan melatih percaya diri anak. Adapun beberapa tips yang ia paparkan, bebaskan anak memilih objek yang disukainya, pandu anak mendapatkan informasi 5W + 1H, beri kesempatan bertanya pada anak yang sedang melakukan aktivitas “Tunjukkan dan Ceritakan”.
Untuk metode terakhir, ia menyebutkan bernyanyi dan bergerak juga ia paparkan menjadi bagian dari pembelajaran bahasa pada masa pra-membaca. “Manfaatkan aktivitas favorit setiap anak, yaitu bermain.” tegasnya.

(Para Direktur SEAQIL, SEAQIS, SEAQIM, dan Wakil Direktur SEAMEO CECCEP memberikan penyataan penutup)
Selain dari paparan Luh Anik mengenai stimulasi pembelajaran Bahasa melalui Aktivitas Menyenangkan Masa Pra-Membaca, Elis Rosdiawati, menerangkan karakteristik pembelajaran anak usia dini. Mengenai tips pra-keterampilan ilmiah untuk anak usia dini, Indrawati membagi dalam dua kategori, yakni keterampilan proses sains dasar dan terintegrasi. Sumardiyono membagikan tips belajar yang menyenangkan bagi anak yang sedang dalam masa pra-numerasi. Ia menyebutkan yang pertama adalah menimbulkan kesabaran dari pihak orang tua dan kesadaran dari pihak guru karena setiap anak berproses untuk mengenali cara belajarnya.
Sebagai penutupnya, dapat dikatakan bahwa stimulus dalam berbahasa dapat melatih interaksi sosial dan komunikasi serta berpikir kritis dan logis. Luh Anik mengatakan, “Tanamkanlah bahwa bahan ajar dari yang sederhana pun bisa kita olah. Yang penting adalah bagaimana guru ini bisa menggunakan bahan itu untuk melatih anak berkomunikasi dan memiliki tahapan berpikir yang mengarah ke HOTS (High Order Thinking Skill). Unsur 5 W + 1 H dalam tingkat PAUD sudah bisa dikenalkan” imbuhnya. Sebagai pernyataan penutup, Luh Anik menyimpulkan bahwa pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna, bukan pembelajaran yang menyulitkan anak.