Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani menjadi pembicara dalam the 10th SEAMEO-University of Tsukuba Symposium
SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) berpartisipasi dalam The 10th SEAMEO-University of Tsukuba Symposium yang diadakan dari Kamis hingga Jumat [10-12/02]. Simposium ini mengangkat tema Pendidikan Guru di Masa Lalu, Saat Ini, dan Tantangan ke Depan dan dalam menanggapi situasi pandemi Covid-19 yang menantang saat ini. Simposium ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk menampilkan praktik terbaik pendidikan dan pelatihan guru dalam menanggapi dampak pandemi dan penutupan sekolah di Asia Tenggara.
Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani, berpartisipasi dalam simposium hari ke-2 pada hari Jumat [11/02] untuk menyampaikan topik tentang Desain Pelatihan SEAQIL merespons Covid-19: Mengatasi Kebutuhan setiap Guru dan Calon Guru. Luh Anik menjelaskan, program SEAQIL saat ini sedang dalam mode adaptasi, yakni dilakukan secara daring atau campuran. Luh Anik menguraikan beberapa adaptasi termasuk pelatihan daring/campuran (synchronous-asyncchronous); program magang jarak jauh, webinar, klub bahasa virtual, kompetisi daring, dan penggunaan berbagai platform daring.
“Kami juga mengadaptasi tema kegiatan antara lain pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa, pembelajaran bahasa di era digital, praktik pembelajaran bahasa yang baik di tengah pandemi, dan pembuatan konten digital (video pembelajaran; vodcast; video animasi; dll) untuk pembelajaran bahasa. Adaptasi pada produk dan publikasi dapat dilihat pada model pembelajaran daring, modul pembelajaran mandiri guru dan publikasi melalui platform daring (situs web/media sosial). Kami juga melakukan inovasi produk dalam rangka penyediaan materi pembelajaran digital bagi guru dan siswa,” ujar Luh Anik.
Lebih lanjut, Luh Anik mengatakan bahwa kegiatan daring membuka peluang bagi SEAQILuntuk menjangkau mereka yang belum terjangkau; untuk melibatkan peserta dari negara-negara Asia Tenggara dan sekitarnya. Kegiatan daring, tambahnya, juga menawarkan jaringan yang lebih luas bagi SEAQIL untuk mengundang para ahli di seluruh dunia dan biaya anggaran yang lebih rendah sehingga SEAQIL dapat melakukan lebih banyak program. Dalam sesi diskusi, Luh Anik juga menjawab pertanyaan peserta tentang bagaimana mendorong/memastikan guru tetap termotivasi dan terlibat untuk berkembang secara profesional terlepas dari semua tantangan. “SEAQIL harus memberikan pelatihan atau kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pelatihan dan kebutuhan yang sesuai untuk guru akan terus diperbarui dan kami ingin guru tetap kreatif dan akrab dengan teknologi dan kami ingin memastikan bahwa pembelajaran selalu menyenangkan,” kata Luh Anik.
Luh Anik juga menginformasikan, “Kami juga baru saja merilis SEAMEO QITEP in Language Vodcast Live dimana para guru dapat berbagi pengalaman, praktik terbaik dalam pembelajaran Bahasa. Jadi, ketika guru merasa bahwa mereka memiliki klub atau komunitas tertentu dan mereka dapat berbagi praktik terbaik dan mereka dapat belajar dari orang lain (apa yang dilakukan guru lain selama pandemi), saya pikir mereka akan tetap termotivasi untuk menerima situasi ini dan untuk berkelanjutan apa pun kondisinya,” kata Luh Anik.
Luh Anik menyimpulkan bahwa respon SEAQIL terhadap Covid-19 antara lain mengadaptasi mode/desain kegiatan; tema kegiatan; produk dan publikasi; dan ahli dan peserta. Selain itu, tambahnya, pelatihan guru dirancang berbeda untuk memenuhi kebutuhan guru dan calon guru.
Sebagai informasi tambahan, SEAQIL Vodcast Live disiarkan setiap hari Selasa (minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulan) mulai pukul 15.00 hingga 16.00 (GMT+7) melalui Zoom dan YouTube. Anda dapat mengikuti platform media sosial kami untuk informasi terkini. (/MR)