
Siaran Pers
Jakarta, 23 Juni 2021
Pelaksanaan program magang Klub Literasi Sekolah (KLS) gagasan SEAMEO QITEP in Language angkatan I resmi ditutup oleh (Plt.) Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Kemendikbudristek, Ir. Hedarman pada Rabu (23/6). Tercatat sebanyak 1970 siswa dan 205 guru pendamping dari 69 sekolah di 12 provinsi dan 295 mahasiswa dari 17 perguruan tinggi terlibat dalam program magang KLS. Berdasarkan hasil analisis data awal, program KLS dianggap mampu menumbuhkan minat siswa dalam membaca buku hingga lebih dari lima buku dalam satu periode pelaksanaan dari Februari—Juni 2021 dan mengunjungi perpustakaan.
KLS merupakan program yang diselenggarakan SEAQIL dalam rangka mendukung kebijakan Merdeka Belajar—Kampus Merdeka (MBKM) Kemendikbudristek melalui pelibatan aktif mahasiswa. Perguruan tinggi dituntut untuk dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal serta selalu relevan dengan perkembangan revolusi industri tahap 4, dengan tiga Literasi, yaitu literasi data, teknologi, dan manusia. Hal ini yang mendorong Kemendikbudristek mengeluarkan kebijakan MBKM yang bertujuan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja.
Kemendikbudristek melalui program Kampus Mengajar memberikan peluang kepada mahasiswa dalam berkontribusi sebagai agen perubahan untuk tantangan pendidikan Indonesia, menjadi mitra guru untuk berinovasi dalam pembelajaran literasi, numerasi serta adaptasi teknologi, dan mengasah keterampilan sosial yang mencakup empati, komunikasi, kepemimpinan, pemecahan masalah, inovasi dan kreativitas.
Lebih lanjut, Hendarman turut mengapresiasi SEAMEO Centre Indonesia atas program-programnya yang luar biasa, termasuk KLS. Menurutnya, pelaksanaan KLS sangat selaras dengan penetapan kebijakan MBKM, di mana mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan di luar kampus serta dapat menjadi agen perubahan sebagai pengajar literasi bahasa di berbagai sekolah mitra. Sembari menutup pelaksanaan kegiatan KLS, Hendarman berharap cakupan KLS dapat lebih luas lagi ke depannya, baik perihal wilayah provinsi maupun maupun mitra. Sinergi antara SEAQIL dengan mitra pun diharapkan tetap berjalan baik meski program KLS angkatan I telah berakhir.
Menurut Hendarman, program KLS sejalan dengan program Kampus Mengajar melalui pelibatan mahasiswa sebagai pendamping atau fasilitator literasi. Hendarman menjelaskan peran penting mahasiswa sebagai motor/penggerak yang terjun langsung ke lapangan, khususnya dalam mengajarkan dan membiasakan literasi di sekolah.
Program KLS merupakan pengembangan Literasi berbasis peminatan (peminatan karya sastra, jurnalistik, drama, dan karya-karya literasi lainnya), serta pengembangan karya bebahasa Indonesia dan bahasa asing (bahasa Arab, Jepang, Jerman, Inggris, Mandarin, dan lainnya). Selain itu, KLS tidak hanya untuk pengembangan kompetensi siswa tetapi juga menjangkau lingkup yang luas yaitu pengembangan kompetensi guru, kepala sekolah, serta pengembangan mutu sekolah dan perguruan tinggi.
Sebelum KLS ditutup secara resmi oleh Hendarman, Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani, menyampaikan laporan hasil program magang KLS Angkatan I. Dari hasil survei yang dilakuakan, Luh Anik memaparkan sebanyak 9% siswa membaca lebih dari 5 buku, 42% siswa membaca 3—5 buku, dan 49% siswa membaca 1—2 buku. Temuan lain menunjukkan sebanyak 15% siswa sangat sering mengunjungi perpustakaan, 23% siswa sering mengunjungi perpustakaan, 36% siswa cukup sering mengunjungi perpustakaan, dan hanya 12% siswa yang tidak pernah mengunjungi perpustakaan.
“Data-data tersebut menunjukkan kegiatan Klub Literasi Sekolah nampaknya membawakan berbagai dampak positif yang cukup signifikan, yaitu dalam menumbuhkan minat siswa dalam membaca buku dan mengunjungi perpustakaan.” ujar Luh Anik.
Deputi Direktur Administrasi SEAQIL, Dr. Misbah Fikrianto, turut menyampaikan terkait pengembangan tindak lanjut program KLS. Pengembangan tersebut meliputi penguatan literasi yang diwujudkan melalui penyelenggaraan webinar Literasi Hak Cipta, ekspose karya KLS (presentasi dan link dengan mitra), produksi digital dengan menyusun produk digital, serta etalasi karya membaca dan menulis di media sosial maupun laman, dan perlibatan dalam berbagai kegiatan organisasi dengan mengembangkan komunitas literasi dan kerja sama publikasi sekolah.
Acara dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat secara simbolis kepada perwakilan mahasiswa, siswa, dan universitas oleh Deputi Direktur SEAQIL, Luh Anik. Dalam acara penutupan ini, ditampilkan pula beberapa hasil karya siswa peserta KLS, yakni; penampilan storytelling berjudul “My Ugly Duckling” oleh Helya Messakh dari SMA N 2 Kupang; pembacaan puisi berjudul “Diri Berumpama” oleh Muhammad Haikal dari SMA 3 Muhammadiyah Yogyakarta; serta pemaparan sekilas terkait buku antologi cerpen berjudul “Bait Kisah” yang dibawakan oleh Puspo Tunjung sebagai perwakilan dari 20 siswa yang terlibat dalam penulisan buku berjumlah 415 halaman tersebut.

Sesi foto bersama antara SEAQIL, mahasiswa, siswa, dan mitra sebagai penutup berakhirnya program magang Klub Literasi Sekolah (KLS) Angkatan I Tahun 2021

Helya Messakh, siswi asal SMAN 2 Kupang menampilkan storytelling berjudul “The Ugly Duckling” menggunakan media papan visual.