Semangat Tingkatkan Kompetensi Pengajar BIPA di Dunia

SEAQIL, narasumber, dan peserta Penyusunan Silabus Diklat Metolodogi Pengajaran BIPA Tahap 1 pada sesi foto bersama.

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) bersama dengan pakar dan pengajar BIPA berkumpul pada Selasa (28/09) untuk mengembangkan modul pelatihan dan pendidikan guna meningkatkan kompetensi pengajar BIPA, utamanya di Asia Tenggara. Keterlibatan para pengajar BIPA diharapkan dapat membuat pengembangan draf modul menjadi lebih konkrit untuk diterapkan dan dipahami lebih mudah untuk target audiens sesama pengajar BIPA.

Pada kegiatan ini, SEAQIL mengundang enam pakar, yakni A.M. Yusri Saad (Puskurbuk, Balitbang, Kemdikbudristek), Paulina Chandrasari Kusuma (Universitas Atma Jaya), Rahmi Yulia Ningsih (Universitas Bina Nusantara), Editia Herningtias (Tata-kata.com), Agus Soehardjono (Wisma Bahasa Yogyakarta), serta Erni C. Westi (Sintas Bahasa) yang menjadi narasumber sekaligus konseptor penyusunan silabus bagi pengajar BIPA.

Secara historis, BIPA sudah menjadi tupoksi SEAQIL sejak tahun berdirinya, yakni tahun 2009. Adapun kegiatan yang pernah dilakukan adalah diklat atau pelatihan pengajar BIPA. Dalam pembukaan kegiatan, Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani, kemudian memaparkan, “SEAQIL menjadi salah satu lembaga yang ditetapkan oleh Kemdikbudristek yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah pemelajar BIPA di dunia. Secara fokus wilayah kerja, kami berfokus pada regional Asia Tenggara. Namun, jika ada dari luar wilayah fokus ingin bergabung, kami tetap terbuka.”

Lebih lanjut, Luh Anik menyampaikan harapannya untuk mendorong lebih banyak peminat, pegiat ataupun pecinta BIPA untuk turut mengajarkan BIPA. Namun, untuk dapat menjadi pengajar, setidaknya ada kompetensi minimal yang harus disetujui dan dimiliki oleh calon pengajar BIPA. Standar Kompetensi Pengajar (SKP) BIPA yang sebelumnya diinisiasi penyusunannya oleh SEAQIL kemudian menjadi dasar dalam pengembangan silabus Diklat Metodologi Pengajaran BIPA.

Enam narasumber berdiskusi untuk penyusunan silabus diklat metodologi pengajaran BIPA.

Yusri Saad berpendapat bahwa enam kompetensi dalam SKP BIPA perlu dipetakan ulang secara terstruktur untuk masuk ke dalam draf silabus. “Subkompetensi tersebut perlu dipetakan mana yang akan lanjut dan wajib dilatihkan melalui diklat dan mana yang tidak. Selain itu, saat satu kompetensi sudah dipilih akan dilatihkan, maka perlu dituntaskan dalam satu waktu pelatihan,” tambah Yusri.

Kegiatan ini akan menjadi acuan pada penyusunan draf silabus diklat metodologi pengajaran BIPA tahap berikutnya. Seluruh narasumber dan peserta saling bertukar ide dan berdiskusi dengan fokus penyusunan draf silabus berdasarkan kompetensi yang sudah tertera dalam SKP BIPA, terutama pedagogis dan profesional. Adapun kompetensi dan subkompetensi lain akan lebih lanjut dituangkan dalam pengembangan silabus pada tahap berikutnya.

×