SEAQIL turut berpartisipasi dalam Webinar Awam Hari Ginjal Sedunia 2022

Dr. Luh Anik Mayani bersama dr. Djoko Wibisono, dr. Tities Anggraeni, dan dr. Fitri Imelda berpartisipasi dalam Webinar Hari Ginjal Sedunia 2022

Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani M. Hum., bersama dr. Djoko Wibisono, Sp.P.D., K.G.H. dan dr. Fitri Imelda, Sp.P.D., K.G.H. berpartisipasi sebagai pembicara pada Webinar Awam Hari Ginjal Sedunia 2022 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) bertemakan “Ginjal Sehat untuk Semua: Menjembatani Kesenjangan Pengetahuan untuk Kesehatan Ginjal yang Lebih Baik” pada Minggu (27/03) dalam rangka memperingati Hari Ginjal Sedunia pada 10 Maret setiap tahunnya.

Pada kesempatan ini, Dr. Luh Anik Mayani memulai paparan bertema “Berbahasa Cermat, Masyarakat Cerdas dan Sehat” dengan satu pertanyaan, “Mengapa penting kita harus berbahasa cermat dan baik”. Beliau kemudian menjelaskan bahwa penggunaan bahasa dan tanda baca berperan penting dalam menavigasi isi dari sebuah kalimat agar mudah dipahami. “Kalau membaca kalimat tersebut, kira-kira siapa yang sakit? Apakah Pak RT atau burungnya? Ini merupakan contoh bahwa penggunaan bahasa, tanda baca berperan penting dalam pemahaman kita semua,” ujarnya.


Luh Anik memberikan penjelasan seputar dinamika bahasa

Berbicara tentang literasi, Luh Anik mengungkapkan bahwa bahasa itu bersifat dinamis mengikuti perkembangan zaman dan penuturnya. Maka dari itu, perkembangan zaman melandasi munculnya istilah-istilah baru yang beredar di masyarakat. “Perkembangan istilah itu sangat cepat. Terkadang perkembangan itu tidak sebanding dengan upaya pemerintah untuk memadankan istilah-istilah yang baru muncul di masyarakat. Akibatnya adalah masyarakat tidak dapat mengikuti perkembangan bahasa, sehingga masyarakat kesulitan untuk memahami informasi yang berkembang,” jelasnya. Berkaitan dengan bidang kesehatan, Luh Anik kemudian menambahkan contoh istilah umum yang sering ditemukan sehari-hari, seperti ‘faktor risiko’. Luh Anik mengatakan, “Jika kita sedang berbicara ‘faktor risiko’, itu berarti kita sedang berbicara berbagai hal yang meningkatkan risiko, seperti yang diungkapkan oleh dr. Djoko Wibisono, ‘Diabetes dapat meningkatkan risiko gagal ginjal’.”


Luh Anik dalam memaparkan pentingnya literasi kesehatan

Menambahkan penjelasannya, Luh Anik memaparkan betapa pentingnya penggunaan bahasa dalam konteks kesehatan. Berbagai studi terkait dampak literasi terhadap kesehatan menemukan jika tingkat literasi masyarakat rendah dalam memahami suatu informasi seputar kesehatan, maka sebuah pesan kesehatan tidak akan bisa dipahami. Kondisi tersebut dapat memberikan dampak, sehingga tingkat kesehatan masyarakat menjadi rendah. Menyikapi hal tersebut, Luh Anik menegaskan bahwa dalam mencari sebuah informasi tentang kesehatan, masyarakat ditekankan untuk meninjau literatur yang berkaitan, agar dapat meningkatkan kredibilitas ilmu kesehatan itu sendiri.

Sebagai penutup, Luh Anik menyimpulkan jika bahasa mampu menjembatani pemahaman masyarakat tentang suatu penyakit, maka, pencegahan dapat dilakukan dengan mudah, sehingga akan meminimalisir tingkat penularan yang tinggi. Namun, jika bahasa tidak dapat menjembatani pemahaman masyarakat, maka, tingkat penularan akan meningkat di suatu masyarakat. Oleh karena itu, melalui literasi kesehatan, peningkatan status kesehatan masyarakat diharapkan dapat menjadi lebih baik.

×