SEAQIL tingkatkan kompetensi seratus guru bahasa dalam menerapkan metodologi pengajaran bahasa berorientasi HOTS

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) menyelenggarakan Pelatihan Metodologi Pengajaran Bahasa Berorientasi HOTS secara daring pada 25 Juli—10 Agustus 2022. Pelatihan ini diikuti oleh 100 guru bahasa Arab, Indonesia, Inggris, Jepang, Jerman, Mandarin, dan Prancis jenjang SMP, SMA, dan yang sederajat di Indonesia dan Sekolah Indonesia Luar Negeri. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam melatihkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) peserta didik melalui pembelajaran bahasa.

Deputi Direktur Program SEAQIL, Esra Nelvi M. Siagian menyampaikan bahwa pelatihan ini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari 805 guru bahasa. Selanjutnya, 100 guru bahasa dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti pelatihan ini. Esra juga menjelaskan kepada para peserta bahwa SEAQIL memiliki tugas dan fungsi untuk meningkatkan mutu guru bahasa asing di Asia Tenggara, meliputi bahasa Arab, Jepang, Jerman, dan Mandarin. Selain bahasa tersebut, lanjut Esra, SEAQIL juga memfasilitasi atau membantu peningkatan kompetensi guru bahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis di Indonesia.

“SEAQIL menjalankan tugasnya dengan memberikan pelatihan-pelatihan, seminar, simposium, serta penelitian dan pengembangan materi yang bisa dimanfaatkan oleh guru-guru di Asia Tenggara. Salah satu produknya adalah modul model pembelajaran berorientasi HOTS yang telah disusun oleh Tim SEAQIL dan terbagi atas tiga model pembelajaran, yakni model pembelajaran berbasis penyingkapan, berbasis teks, dan berbasis proyek. Tiga model pembelajaran ini digunakan oleh SEAQIL untuk membantu guru bahasa, khususnya bagaimana mengajar bahasa berorientasi HOTS. Jadi, tidak hanya mengajarkan bagaimana bahasa tersebut digunakan, tetapi juga mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi abad ke-21 yang terdampak perkembangan teknologi,” kata Esra.

Esra juga mengajak para guru untuk terus belajar dan berbagi, “Dengan perubahan zaman ini, guru juga harus mulai belajar bagaimana mengajarkan bahasa yang berorientasi HOTS. Bersama narasumber dari SEAQIL, guru juga dapat membagikan pengalamannya tentang bagaimana impelementasi pembelajaran di kelas-kelas para guru.”

Lebih lanjut, Esra menyebutkan bahwa SEAQIL, pada tahun 2017, membuat sebuah riset tentang analisis kebutuhan pengembangan program berbasis HOTS. “Hasil penelitian tersebutlah yang membuat SEAQIL mengembangkan modul model pembelajaran berorientasi HOTS yang diselesaikan tahun 2018 dan mulai diselenggarakan pelatihannya pada tahun 2019. Dari pelatihan tersebut, SEAQIL juga sudah bisa membantu guru-guru menghasilkan produk-produk pembelajaran, baik berupa video maupun buku-buku praktik baik pengajaran bahasa berorientasi HOTS.”

Esra menyampaikan harapannya, “Guru tidak hanya mengikuti pelatihan saja, tetapi dapat menghasilkan sesuatu yang bisa dibagikan kepada guru-guru lain. Semoga pelatihan ini dapat dipraktikan atau digunakan di kelas dan memberikan manfaat yang besar bagi para siswa.”

Salah satu peserta pelatihan, guru bahasa Prancis SMA Negeri 1 Kalasan, Nauli Trisnaini turut membagikan pengalamannya dalam menerapkan pembelajaran bahasa berorientasi HOTS. Nauli mengungkapkan, “Saya sudah menerapkan model pembelajaran penyingkapan sejak berlakunya Kurikulum 2013 yang juga menyediakan beberapa model yakni berbasis penyingkapan, inkuiri, proyek, dan masalah. Saya lebih sering menggunakan model penyingkapan di kelas. Siswa saya ajak menemukan sendiri apa yang perlu mereka ketahui dari materi yang diajarkan. Jika siswa menemukannya sendiri, biasanya siswa dapat lebih mudah mengingat materi yang diajarkan daripada mendengarkan ceramah guru.”

Nauli juga memberikan contoh penggunaan media untuk menerapkan pembelajaran bahasa berorientasi HOTS. “Terkait ini, saya menggunakan media flash card yang berisi tentang bagaimana mengatakan nama, kebangsaan, dll., dalam bahasa Prancis. Saya meminta siswa untuk menganalisis apa yang mereka lihat dari kata-kata yang memiliki warna sama di flash card. Setelah mereka menganalisis data, mereka membuat kesimpulan. Setelah itu, saya baru mengonfirmasi apa yang mereka temukan. Simpulannya, HOTS dapat bermakna dalam kehidupan sehari-hari karena dapat membantu anak menganalisis, berpikir kritis dan dalam konteksnya.”

Selain melalui pelatihan ini, para guru juga dapat mempelajari materi pembelajaran berorientasi HOTS yang tersaji dalam Modul Model Pembelajaran Berorientasi HOTS dan dapat diunduh gratis melalui laman www.qiteplanguage.org. (Mr)

×