SEAQIL tingkatkan kompetensi guru pembina KLS dalam mengembangkan publikasi karya literasi sekolah

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Pembina Klub Literasi Sekolah (KLS) dalam Mengembangkan Publikasi Sekolah secara daring pada [3–8/11].

Pelatihan ini menargetkan lebih dari seratus pembina KLS yang terdiri atas kepala sekolah, guru, putakawan, dan tenaga kependidikan lain dalam menyusun rencana publikasi karya KLS melalui berbagai media.

Pelaksana tugas (Plt.) Direktur SEAQIL, R. Dian Dia-an Muniroh, Ph.D. membuka pelatihan secara resmi dan menyampaikan, “SEAQIL  menempatkan KLS sebagai salah satu upaya dalam  menunjang kecakapan hidup di abad 21 melalui peningkatan kompetensi siswa dengan berliterasi.”

“Program KLS mendorong siswa untuk memproduksi karya-karya literasi. Dengan melatih kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, komunikatif, dan kreatif sebagai upaya menghidupkan mata rantai pengetahuan melalui publikasi karya literasi,” kata Dian.   

Dian juga mengungkapkan, “SEAQIL sebagai lembaga yang fokus dalam pengembangan kualitas guru dan tenaga kependidikan di bidang bahasa mendukung program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka di bidang literasi. Inti penyelenggaraan KLS adalah pembinaan, pengembangan, dan publikasi produk literasi.”

Deputi Direktur Administrasi SEAQIL, Dr. Misbah Fikrianto menjelaskan, “Dengan menciptakan ekosistem literasi sekolah, SEAQIL mengajak dan memberikan arahan kepada guru pembina KLS untuk melakukan gerakan kampanye literasi melalui berbagai media sebagai bentuk menumbuhkan kesadaran literasi, baik literasi nasional, literasi sekolah maupun literasi masyarakat.”

Misbah melanjutkan, “Sejalan dengan program yang sedang digarap pemerintah terkait program Merdeka Belajar, dalam konteks merdeka literasi Indonesia, diperlukan suatu kebijakan literasi yang komprehensif dan spesifik untuk meningkatkan indeks literasi yang ada di Indonesia.”

“SEAQIL juga memberikan arahan terkait Rencana Publikasi Karya Literasi KLS. Peserta mendapatkan bimbingan teknis mengenai Rencana Publikasi Sekolah (RPS) dan arahan terkait proses penyusunan hasil karya literasi di sekolah,” kata Misbah.

Dalam pelatihan ini, peserta mendapatkan bimbingan terkait klasifikasi bentuk karya yang bisa dipublikasikan, baik dalam bentuk media seperti teks (e-buletin, majalah daring, mading sekolah, buku antologi, dan infografis), siniar (podcast dan vodcast), maupun festival/pagelaran.

Untuk mendukung pelatihan ini SEAQIL turut melibatkan kolaborator KLS dari kalangan mahasiswa, dosen, kepala sekolah dan praktisi yang berasal dari Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Negeri Semarang, SMAN 19 Bandung, SINDOnews, dan Republika.

Pelatihan yang dilaksanakan selama empat hari ini diharapkan bisa membantu guru pembina KLS dalam mengembangkan publikasi sekolah, khususnya untuk produk literasi dari program KLS. SEAQIL mendukung program literasi dengan harapan bisa membantu dalam penerapan literasi pada kehidupan nyata karena dengan #LiterasiBangkit maka #SekolahMaju.

×