SEAQIL siapkan Generasi Z menjadi pencerita digital

‘Menyiapkan Gen Z menjadi Digital Storyteller. Bagaimana caranya?’ menjadi topik pembahasan pada SEAQIL Vodcast Live (SVL) episode 12 yang telah tayang pada Selasa (19/07). Pada episode kali ini, SVL mengundang Dr. Finita Dewi, Dosen Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus Direktur Pengembangan Profesional Guru di iTELL. Dipandu oleh Meyrinda Tobing, SVL menyapa para audiens melalui Zoom dan YouTube SEAQIL.

Budaya bercerita atau storytelling telah hadir sejak lama sebelum adanya praktik menulis. Jika bercerita secara konvensional lebih menekankan pada proses membaca, menyimak, lalu menceritakan ulang, maka bercerita secara digital (digital storytelling/DST) memiliki penekanan lain. Finita memaparkan bahwa menurut Miller (2007), personalisasi adalah kunci dari bercerita secara digital. Siswa mengonsktruksi pendapat dan pengalaman pribadi secara otentik dalam kegiatan pembelajaran bermakna.

Lebih lanjut, Finita mengutip Robin (2008) bahwa bercerita secara digital merupakan seni membuat cerita pendek berupa dongeng, biografi, sejarah, atau topik lain dengan menggabungkan berbagai media digital seperti foto, suara, animasi, atau gambar bergerak. “DST adalah kendaraan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan. Bukan hanya keterampilan membaca, menulis, ataupun menyimak, tetapi juga keterampilan abad ke-21 yang dibutuhkan gen Z di masa mendatang,” ungkap Finita.

Berbagai keterampilan abad ke-21 yang dapat dikembangkan melalui DST antara lain adalah memecahkan masalah, mengemukakan pendapat, berkolaborasi, berpikir kritis, mengembangkan literasi multimodal dan literasi digital. Lebih lanjut, Finita mengungkapkan bahwa dari sisi guru, kesulitan yang mungkin dihadapi saat menyiapkan DST ada dalam proses perencanaan. Oleh karena itu, Finita merangkum langkah-langkah pembuatan cerita digital bagi siswa yang telah disusun oleh Morra (2015) sebagai berikut.

  1. Mulai dengan sebuah gagasan yang relevan dengan kehidupan siswa dan befokus pada aspek personalisasi siswa.
  2. Lakukan riset, eksplorasi, atau pembelajaran melalui pertanyaan pemantik, klasifikasi dan pemilihan informasi relevan, serta menggali pendapat personal.
  3. Membuat naskah berdasarkan informasi atau riset yang didapat.
  4. Membuat alur atau rencana cerita dengan menyusun informasi, identifikasi kebutuhan gambar, teks, ataupun animasi.
  5. Mengumpulkan atau membuat gambar, audio, dan video. Pada tahap ini, siswa diperkenalkan dan dapat memilih alat bantu teknologi yang akan digunakan. Selain itu, siswa diberikan pemahaman mengenai hak cipta.
  6. Menyusun cerita digital berdasarkan naskah dan gambar, audio, atau video yang telah dikumpulkan.
  7. Memublikasikan hasil dan merefleksikan proses pembuatan cerita digital.

Menutup sesi bincang-bincang dengan sesi tanya-jawab, Finita memberikan pandangan terkait penilaian yang dibutuhkan dalam DST. Ia menekankan bahwa tidak seluruh aspek harus dinilai oleh guru. Sebagai contoh, jika aspek kebahasaan ataupun keterampilan abad ke-21 memiliki 4 poin, maka pilih 2 poin utama yang akan dinilai. Hal ini, salah satunya bertujuan agar guru dan siswa tetap dapat menikmati proses dan hasil dari pembuatan cerita digital tanpa dibatasi oleh penilaian. (FH)

---

SEAQIL Vodcast Live merupakan program peningkatan kompetensi guru yang inovatif dan dikemas dalam bentuk bincang santai. Tayang rutin setiap hari Selasa (minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulannya) pukul 15.00—16.00 WIB. Tiap episode mengangkat tema yang berbeda terkait pengajaran bahasa. Informasi episode SEAQIL Vodcast Live selanjutnya dapat diakses melalui laman dan media sosial SEAQIL. SEAQIL Vodcast Live episode 12 kini sudah dapat ditonton ulang melalui kanal YouTube SEAMEO QITEP in Language.

×