SEAQIL menerjemahkan Modul berorientasi HOTS  dalam bahasa Lao, Khmer, dan Vietnam

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) berupaya membina para guru di Asia Tenggara melalui model pembelajaran berbasis HOTS dengan cara menerjemahkan semua modul tersebut ke dalam bahasa resmi negara-negara Asia Tenggara. Pada tahun 2021, SEAQIL menargetkan penerjemahan modul ke dalam bahasa Khmer, Laos, dan Vietnam. Untuk mewujudkan upaya tersebut, pada Selasa [31/8], SEAQIL mengadakan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) dengan Governing Board (GB) Member untuk Vietnam, Tran Thi Phuong (Kementerian Pendidikan dan Pelatihan Vietnam) untuk mendiskusikan hasil penerjemahan modul dalam bahasa Vietnam.

“Niat kami untuk menerjemahkan modul pembelajaran berbasis HOTS ke dalam bahasa-bahasa Asia Tenggara seperti Khmer, Lao, dan Vietnam telah diusulkan melalui kertas kerja di 11th Governing Board Meeting SEAQIL. Tujuannya yakni mengusulkan bhawa SEAQIL akan membina para guru di negara-negara Asia Tenggara melalui modul pengajaran berorientasi HOTS dengan cara menerjemahkan modul tersebut ke dalam bahasa sasaran guru Asia Tenggara. Merupakan suatu kehormatan bagi kami bahwa kertas kerja tersebut telah didukung dan disetujui oleh Anggota GB”, jelas Direktur SEAQIL, Dr. Luh anik Mayani saat menyampaikan sambutannya.

Luh Anik mengatakan modul tersebut, yakni model pembelajaran penyingkapan, berbasis proyek, dan berbasis teks, menyajikan pengajaran bahasa dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, dan Jerman. Luh Anik mengungkapkan bahwa SEAQIL percaya dengan menerjemahkan produk tersebut, SEAQIL dapat berkontribusi untuk mempercepat transfer ilmu pengetahuan dan nilai-nilai, sehingga siswa dapat menguasai keterampilan abad ke-21. Lebih lanjut, Luh Anik juga mengungkapkan bahwa SEAQIL yakin modul pembelajaran berbasis HOTS tersebut dapat memfasilitasi guru untuk meningkatkan tingkat berpikir siswa. Tidak hanya sekedar memahami teks, Luh Anik menambahkan, siswa dapat meningkatkan kemampuan berpikirnya pada tingkat berpikir aras tinggi.

“Dengan menerjemahkan produk dalam bahasa resmi negara-negara Asia Tenggara, kami percaya bahwa SEAQIL dapat mempertahankan dan memperkuat jejaring yang luas di antara Negara-Negara Anggota SEAMEO. Di sisi lain, kami ingin berkontribusi dan mendukung misi SEAMEO untuk meningkatkan visibilitas, pemahaman, dan kerjasama regional dalam pendidikan untuk masa depan Asia Tenggara yang lebih baik”, kata Luh Anik.

Dalam menerjemahkan modul tersebut, Luh Anik menjelaskan, tahun ini, SEAQIL bekerja sama dengan dua SEAMEO Centre lainnya, yaitu SEAMEO CAD (Lao PDR) dan SEAMEO RETRAC (Vietnam). Terjemahan yang tersedia saat ini dalam bahasa Vietnam dan Laos. Jadi, imbuh Luh Anik, dengan tersedianya modul terjemahan tersebut, SEAQIL membutuhkan bantuan penutur asli bahasa Vietnam dan Laos untuk mengoreksi dan memvalidasi versi yang ada agar dapat dibaca dan dimengerti oleh para guru di Vietnam dan Laos.

“Ke depan, kami berharap produk yang diterjemahkan dapat didiseminasikan dalam bentuk lokakarya pengajaran berorientasi HOTS di Vietnam. Dalam hal ini, perlu adanya kerja sama dengan Kementerian Pendidikan di Vietnam”, harap Luh AniK.

Wakil Direktur Program SEAQIL, Esra Nelvi M. Siagian, mempresentasikan proses pengembangan modul serta rencana SEAQIL ke depan terkait dengan diseminasi modul-modul tersebut. Esra menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian yang diadakan oleh SEAQIL pada tahun 2017, SEAQIL tertantang untuk mengembangkan bahan ajar bahasa dengan tiga model pembelajaran. Esra menambahkan, modul diterbitkan dalam versi cetak dan SEAQIL juga melakukan pelatihan terkait topik dalam modul tersebut.

“SEAQIL juga menerjemahkan modul-modul ini dalam bahasa Inggris untuk menjangkau lebih banyak guru. Kemudian kami menyadari bahwa tidak semua guru di Asia Tenggara dapat berbicara dalam bahasa Inggris, sehingga dengan dukungan dari dua SEAMEO Centre lainnya, kami berusaha menerjemahkan modul-modul ini dalam bahasa-bahasa Asia Tenggara,” jelas Esra.

Selanjutnya, Esra berharap, setelah menerjemahkan modul-modul tersebut dalam bahasa Lao, Khmer, dan Vietnam, SEAQIL berharap dapat menerjemahkan modul tersebut ke dalam bahasa lain di Asia Tenggara seperti Tetum dan Thai. Esra menambahkan bahwa SEAQIL berencana mengadakan pelatihan metodologi pengajaran berbasis HOTS bagi guru di kawasan Asia Tenggara bekerja sama dengan SEAMEO Centre di Asia Tenggara.

×