SEAQIL magangkan mahasiswa sebagai asisten pengajar BIPA di Australia

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) menyelenggarakan program magang mahasiswa jurusan bahasa sebagai asisten pengajar BIPA pada lembaga penyelenggara BIPA di dalam dan luar Indonesia. Program ini didesain sebagai upaya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman dalam menyelenggarakan dan mengelola pembelajaran BIPA. Program magang ini juga dilatarbelakangi sebagai bentuk nyata dukungan SEAQIL dalam menyukseskan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) Kemendikbudristek dan upaya internasionalisasi bahasa Indonesia.

Pada Kamis [21/04], SEAQIL melakukan rapat koordinasi Program Magang Asisten Pengajar BIPA di Australia terkait pelaksanaan program magang. Sebanyak tujuh mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk melakukan magang sebagai asisten pengajar BIPA di Huntingtower School Victoria dan Sacred Heart Girls’ College Melbourne, Australia. Mahasiswa magang berasal dari empat perguruan tinggi, yakni Universitas Negeri Jakarta (3), Universitas Pendidikan Indonesia (2), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (1), dan Universitas Negeri Yogyakarta (1). Program magang ini akan dilaksanakan secara daring sesuai dengan periode waktu yang disepakati oleh SEAQIL dan institusi yang bersangkutan.

Hadir dalam rapat ini Dewan Direksi SEAQIL, yakni Dr. Luh Anik Mayani, M.Hum. (Direktur), Esra Nelvi Siagian (Deputi Direktur Program), Dr. Misbah Fikrianto (Deputi Direktur Administrasi) dan staf, serta pengajar BIPA senior dari institusi penerima magang, yakni Tata Survi (Huntingtower School Victoria) dan Bea Awiati (Sacred Heart Girls’ College Melbourne).

 “Saat ini, sejak Mendikbudristek Nadiem Makarim meluncurkan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, semua unit kerja di bawah Kemendikbudristek diharapkan bisa mendukung program ini. Dan salah satu hal yang dilakukan untuk mendukung “Kampus Merdeka” adalah menyediakan tempat pemagangan mahasiswa, di dalam negeri misalnya, kami meluncurkan program Klub Literasi Sekolah dengan melibatkan 295 mahasiswa ke 69 sekolah di 12 provinsi. Seiring dengan itu, kami ingin memagangkan mahasiswa sebagai duta bangsa ke luar negeri dengan sasaran utama di Asia Tenggara”, ungkap Luh Anik

Lebih lanjut, Luh Anik menyampaikan karena perkembangan BIPA tidak hanya di ASEAN, maka kami melaksanakan fasilitasi serupa ke negara lain, misalnya program pelatihan BIPA kerja sama dengan KBRI Riyadh dan KBRI di Thailand. Luh Anik menjelaskan bahwa fasilitasi ini perlu kami laksanakan, selain mendukung program MBKM, ini menjadi salah satu masukan dari para pemangku kepentingan ke-BIPA-an.

“Ketika negara di luar Indonesia bersemangat untuk mengembangkan program BIPA, kira-kira apa yang bisa difasilitasi oleh pemangku kepentingan di Indonesia? Dan kami berpikir dengan menyediakan asisten pengajar BIPA yang mudah-mudahan dapat ditingkatkan menjadi pengajar BIPA, tentu ini menjadi satu hal strategis yang bisa dilaksanakan oleh SEAQIL untuk menjamin kebersinambungan atau keberlanjutan program-program BIPA di luar Indonesia,” ungkap Luh Anik.

Dalam laporannya, Esra menyampaikan detail tujuan dari magang bagi mahasiswa, yakni memberikan peluang untuk bekerja, berkontribusi, dan memahami dunia kerja secara nyata, meningkatkan kompetensi pedagogis, profesional, sosial, kepribadian, serta wawasan kebudayaan; memperluas jejaring mahasiswa dalam lingkup ke-BIPA-an, serta membekali mahasiswa untuk menjadi SDM yang berkompeten, berkesempatan untuk menjadi pengajar BIPA, atau menguatkan pondasinya untuk membuka lapangan pekerjaan terkait ke-BIPA-an.

“Pada tahun 2021, SEAQIL memberikan Pelatihan Metodologi Pengajaran BIPA kepada 103 mahasiswa dari 24 perguruan tinggi di Indonesia yang kemudian diseleksi menjadi 7 orang calon pemagang yang akan kami tempatkan di Huntingtower School Victoria dan Sacred Heart Girls’ College, Melbourne. Pelatihan tersebut juga melibatan 14 praktisi BIPA dari Indonesia dan Luar negeri,” ungkap Esra.

Lebih lanjut, Esra menyampaikan bahwa mahasiswa magang telah dibakali materi terkait metodologi pembelajaran (4 keterampilan berbahasa), pengembangan bahan ajar, pemanfaatan media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, pemahaman lintas budaya, dan penyusunan RPP. Selain itu, mahasiswa magang juga diseleksi berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan SEAQIL, salah satunya memiliki sertifikat pelatihan minimal 40 JP. Selain itu, Esra menekankan bahwa mahasiswa magang juga harus memahami dan mematuhi Cyber-Safe Policy yang berlaku di Australia dan di sekolah yang bersangkutan. Esra menambahkan bahwa mahasiswa magang akan mendapatkan sertifikat magang dan konversi nilai magang Kampus Merdeka jika dibutuhkan.

Menutup pertemuan ini, Luh Anik berharap dengan pengalaman para pengajar BIPA senior, mahasiswa magang bisa menggunakan kesempatan ini untuk menambah pengalaman, memutakhirkan pengalaman dalam mengajar bahasa Indonesia. (/MR)

×