SEAQIL latih mahasiswa jadi pendamping literasi andal dalam Klub Literasi Sekolah

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) menyelenggarakan program Training of Trainers (TOT) calon mahasiswa pendamping Klub Literasi Sekolah (KLS) 2022 secara daring pada 21—30 Juni 2022. Pembukaan dan hari pertama pelatihan yang dilaksanakan pada Selasa (21/06) dihadiri oleh Dr. Luh Anik Mayani (Direktur SEAQIL), Dr. Misbah Fikrianto (Deputi Direktur Administrasi SEAQIL), Esra Elvi M. Siagian (Deputi Direktur Program SEAQIL), Sofie Dewayani, Ph.D. (Ketua Satgas Gerakan Literasi Sekolah), Albard Khan (UIN Sunan Ampel), Benny Arnas (Benny Institute), Elsy Suriani (SMP Negeri 8 Palangka Raya), Eros Meilina Sofa (IAIN Pekalongan), serta Edwin Dwi Putranto dan Ratna Puspita (Republika Online). Pembukaan ini juga turut mengundang pimpinan dan dosen dari perguruan tinggi kolaborator. Program TOT ini bertujuan untuk menyeleksi mahasiswa magang KLS berdasarkan kompetensi yang dimiliki, serta meningkatkan kompetensi calon mahasiswa pendamping program KLS 2022 dalam hal pendampingan literasi.


Luh Anik saat membuka program ToT 2022

Luh Anik mengungkapkan bahwa TOT memiliki peran penting dalam menghasilkan mahasiswa pendamping KLS yang kompeten, serta sebagai salah satu upaya dalam mendukung kesuksesan program KLS 2022. Luh Anik juga menyampaikan bahwa sekolah pendaftar KLS 2022 berjumlah tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan tahun 2021. Hal tersebut didasari karena tingginya animo sekolah untuk meningkatkan dan memajukan tingkat literasi siswa mereka. “Berkembangnya jumlah sekolah di Indonesia yang mendaftar KLS, serta keikutsertaan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), membuka peluang yang besar bagi mahasiswa dan perguruan tinggi untuk melaksanakan program KLS,” ujar Luh Anik.


Misbah menerangkan indeks aktivitas literasi di Indonesia

Menyelami lebih dalam seputar literasi, Misbah menerangkan bahwa skor indeks aktivitas literasi membaca di Indonesia masih terbilang rendah dari beberapa dimensi, di antaranya dimensi akses dan budaya. Dengan demikian, jelas Misbah, membaca merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kecakapan literasi baca-tulis di abad ke-21. “Membaca yang kontekstual dapat menstimulasi kita untuk menerapkan sesuatu serta melakukan aktivitas yang komplementer. Oleh karena itu, mulai dari membaca, seseorang bisa menulis dengan segala pengetahuan yang dimilikinya,” ungkap Misbah.

Lebih lanjut, Misbah menuturkan bahwa terwujudnya ekosistem literasi merupakan tanggung jawab kolektif. Maka, KLS menjadi dukungan kebijakan serta aktivitas yang dapat memberikan dampak perubahan yang masif. “Pelaksanaan KLS ini menjadi hal yang sangat penting, karena KLS bukan hanya literasi membaca saja, tetapi Anda memberdayakan, mengembangkan, membuat karya ketika Anda nyaman di suatu peminatan. Jadi, mulai hari ini, Anda telah tercatat oleh kami, Anda memiliki sebuah komitmen perubahan. Ini luar biasa,” tegasnya.


Sofie menjelaskan penumbuhan budaya literasi di sekolah

Berbicara tentang pendampingan literasi di sekolah, Sofie Dewayani menggarisbawahi bahwa lingkungan fisik sekolah, lingkungan sosial-emosional, serta lingkungan akademik sangat memengaruhi dalam meningkatkan kecakapan literasi dan perilaku literat. Oleh karena itu, untuk memaknai definisi literasi yang sebenarnya, siswa tidak hanya sekedar membaca suatu teks saja, namun, siswa harus didampingi untuk berpikir tentang suatu teks yang dibaca.

Pada akhirnya, SEAQIL berharap program KLS ini menjadi wujud gerakan komitmen bersama dalam mengintegrasikan tercapainya beberapa tujuan dalam melakukan perubahan di abad ke-21, di antaranya (1) meningkatkan budaya literasi baca-tulis/tutur siswa; (2) meningkatkan kemampuan 4C siswa, yaitu berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan komunikatif; (3) mengasah kemampuan siswa berbahasa asing; (4) mendukung kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka; serta (5) memperluas jejaring kemitraan.

×