SEAQIL lakukan koordinasi dengan mahasiswa pendamping dan guru pembina KLS

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) melakukan pertemuan bulanan secara daring dengan mahasiswa Klub Literasi Sekolah (KLS) Magang Studi Independen Bersertifikat (MSIB) pada Rabu [12/04/2023]. Pertemuan ini dilakukan dalam rangka membagikan perkembangan selama KLS dan tantangan di lapangan. 

Dalam sambutannya, Deputi Direktur Administrasi SEAQIL, Misbah Fikrianto, menyampaikan, “Mahasiswa serta mitra harus dapat menjalankan program ini secara maksimal. Mohon kita bisa melaksanakan MSIB Batch 4 sesuai dengan panduan.”

“Terdapat komitmen dan peraturan dalam menjalankan MSIB yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa KLS yakni laporan kemajuan atau progres magang dalam bentuk laporan harian dan juga laporan mingguan. Selain itu, setiap mahasiswa KLS juga perlu membuat dokumentasi dan publikasi terkait kegiatan yang dilaksanakan dalam bentuk teks, video, atau yang lainnya. Publikasi bisa diunggah melalui kanal medsos pribadi, mitra, ataupun perguruan tinggi. SEAQIL mendukung terkait publikasi tersebut, baik dalam bentuk laporan, berita, dan lain-lain,” jelas Misbah.

“Pendekatan koordinasi yang dilakukan diharapkan lebih intensif, baik itu melalui komunikasi langsung seperti melalui WhatsApp dan lainnya. Bisa juga melalui laporan tertulis. Koordinasi ini bisa membahas tentang kendala-kendala yang terjadi di lapangan” tutupnya.

Menindaklanjuti tentang perkembangan KLS tersebut, Misbah membuka pertemuan dengan mahasiswa KLS untuk menceritakan aktivitas selama KLS.

Perwakilan mahasiswa KLS dari SMP Nuraida Islamic Boarding School, Az-zahra Bilqis, berbagi kegiatannya selama bermagang. Fokus pada kegiatan KLS, mahasiswa KLS di SMP Nuraida Islamic Boarding School mencoba membuat kegiatan kreatif untuk mendorong siswa agar lebih aktif di kelas. Adapun kegiatan yang dilakukan dengan belajar melalui permainan, membaca buku selama 30 menit, membuat resume yang sesuai dengan ketentuan dari sekolah, dan kegiatan berkelompok lainnya.

Sementara itu, Reza Noersyifa Rindiani, perwakilan mahasiswa KLS di SMAN 2 Kupang, menyampaikan “Lintas budaya menjadi tantangan tersendiri, yakni perbedaan budaya yang dialami, perubahan dari Sunda ke Kupang. Jurnalistik merupakan hal baru di sekolah yang diajar. Itu sedikit menjadi tantangan untuk mengajar.”

Dalam pertemuan ini, para Guru Pembina juga turut hadir dan membagikan aktivitas kegiatan Klub Literasi Sekolah (KLS) yang dilaksanakan di masing-masing sekolahnya.

“Pada saat siswa kelas 10 dan 11 memiliki waktu kosong yang cukup banyak, mahasiswa dan guru menghadirkan kegiatan melalui KLS sebagai upaya untuk mengisi waktu luang siswa. Ada dua kelompok siswa mengikuti KLS dua kali dalam satu minggu, yaitu pada Senin dan Rabu, juga pada Selasa dan Kamis. Untuk rencana pembelajaran kami berfokus ke kegiatan daring, seperti penyebaran formulir dan tanya jawab virtual untuk memetakan peminatan siswa,” ujar Guru Pembina dari SMAN 4 Medan, Harry Syahputra.

Guru Pembina SMA 1 Kalasan, Nauli Siregar, turut menyampaikan gagasan kepada Guru pembimbing yang hadir pada pertemuan. “Kegiatan dapat dilakukan sesuai jadwal. Selain itu, Bapak/Ibu guru bisa memberikan ide melalui link Youtube supaya siswa dapat termotivasi untuk menyusun cerita sesuai tema yang diinginkan. Intinya, Bapak/Ibu guru perlu melakukan diskusi dengan mahasiswa untuk berdiskusi mengenai tahap kegiatan KLS,” tuturnya.

Krisma Dewi, Guru Pembina dari SMPIT Banguntapan menutup sesi sharing dan menjelaskan, “Mahasiswa KLS di SMPIT Banguntapan proaktif, tepat waktu, dan menyusun RAL dengan cukup baik. Kegiatan KLS sudah berjalan empat pertemuan mulai dari perkenalan, pembuatan proyek literasi, dan saat ini dalam tahap pembagian tugas jurnalistik. Kemudian mahasiswa di sini juga humble dan menerima feedback dari sekolah dalam rangka pengembangan proyek literasi, seperti mading sekolah dan podcast.” (Penulis: Aulia Maulida Az Zahra & Ami Nuraida / Editor: Masrur Ridwan, Qisty Meisya Nugraha)

×