SEAQIL kupas tuntas tindakan guru dalam meneliti masalah di kelas

Sudahkan menonton SEAQIL Vodcast Live seri Penelitian Tindakan Kelas? Apa tindakan yang tepat untuk masalah di kelas Anda? Pada episode 4 yang tayang hari ini [22/3], SEAQIL membedah tips yang dapat dilakukan guru dalam meneliti masalah di kelas secara tepat dan tentunya sesuai tradisi teori dan tradisi penelitian itu sendiri. Topik ini dibahas tuntas oleh Prof. Emi Emilia, Ph.D. dengan dipandu oleh Meyrinda Tobing.

Emi menyampaikan bahwa banyak sekali masalah di dalam kelas yang dapat dijadikan sebagai masalah dalam PTK, mulai dari persiapan mengajar, siswa, guru, fasilitas sekolah, kegiatan belajar, evaluasi belajar yang dilakukan, pendekatan pengajaran, strategi pengajaran, penggunaan media, menanamkan karakter dalam pengajaran bahasa, aspek kebahasaan, kemampuan abad ke-21 (berpikir kritis), hingga kemampuan siswa dalam berbagai keterampilan bahasa. Dengan banyaknya masalah di kelas, Emi pun menyampaikan candaan bahwa masalah PTK itu banyak seperti masalah dalam kehidupan.

Menyelami topik bahasan, Emi memberikan tips bahwa dalam menentukan masalah PTK, guru harus mencari salah satu masalah dari sekian masalah yang ada, yang paling penting dan paling mendesak untuk dilakukan. Emi mencontohkan bahwa guru bisa merujuk pada permasalahan yang perlu dicari solusinya menjelang Ujian Nasional. Setelah menentukan masalah yang akan dijadikan penelitian, menurut Emi, guru perlu membaca apa kata ahli tentang hal-hal yang harus dilakukan agar tindakan yang dilakukan tepat.

Emi menambahkan, selain menentukan fokus masalah yang akan diatasi, guru juga perlu memikirkan tindakan yang tepat dalam melakukan PTK, yakni mencari teori yang tepat yang sesuai dengan konsep kurikulum. Emi menjelaskan bahwa guru harus memahami kurikulum yang merupakan perpaduan dari berbagai perspektif. Lebih lanjut, Emi menyebutkan pentingnya perencanaan tindakan yang akan dilakukan dan merefleksikan tindakan tersebut.

“Banyak guru yang membuat judul PTK, misalnya meningkatkan kemampuan membaca/menulis/ berbicara dengan menggunakan pengajaran berbasis teks. Ada masalah dengan judul ini. Kita memang tujuannya untuk meningkatkan, tetapi belum tentu hasilnya meningkat. Kalau tidak meningkat, datanya dibuat-buat. Saya menyarankan penggunaan judul yang netral, misalnya ‘Pengajaran Berbasis Teks dalam Mengajar Menulis Jenis Teks Recount di salah satu SMP…’,” saran Emi.

Untuk teori yang dirujuk, Emi menegaskan, “Jangan menyiksa diri seperti ingin mengubah dunia ini dengan penelitian yang belum dilakukan oleh orang lain. Kita perlu ingat bahwa research berarti kita cari yang sudah dicari oleh orang lain, jangan membuang-buang waktu untuk mencari hal-hal yang belum jelas. Carilah referensi tentang satu pendekatan yang mutakhir, serta validitas dan reliabilitas penelitiannya terjamin dan dengan berdasarkan pada hasil penelitian yang menunjukkan hal yang sama dengan yang sedang kita teliti.”

Lebih lanjut, menjawab pertanyaan Eka Sugeng Ariadi  (MTS Negeri 6 Pasuruan) mengenai ciri-ciri pertanyaan penelitian yang tepat, menurut Emi,  pertanyaan harus sesuai dengan tradisi teori dan tradisi penelitian itu sendiri. Emi menjelaskan bahwa PTK tradisinya terkait kelas, memperbaiki suatu keadaan, kesuksesannya harus teridentifikasi, melibatkan siswa, dsb. Jika PTK tidak memperbaiki keadaan, imbuh Emi, maka tidak bisa disebut PTK. Emi kemudian menyimpulkan bahwa intinya guru dalam meneliti harus sesuai tradisi dimana selain membaca konten (teori), guru juga harus membaca tradisi penelitian dalam teori tersebut.

Selain itu, menjawab pertanyaan dari Lubis (Jawa Tengah) mengenai rumus membangun latar belakang masalah agar tidak bolak-balik direvisi, Emi menjelaskan bahwa latar belakang harus ditulis to-the-point dengan tone yang positif, misalnya guru dapat menyampaikan terkait pentingnya topik daripada membahas kesulitan akan sesuatu.

 “Setelahnya, sampaikan apa masalahnya dan berikan penyelesaian/salah satu solusi untuk mengatasi masalah. Sebelum menulis latar belakang, bacalah dulu referensi siapa saja yang mengatakan bahwa penelitian itu sukses. Kemudian carilah gap-nya, misalnya, walaupun penelitian itu terbukti berhasil, tetapi banyak dilakukan di daerah tertentu saja. Bagian latar belakang pun kemudian diakhiri dengan menyampaikan tujuan dan signifikansi dari penelitian,” kata Emi.

---

SEAQIL Vodcast Live merupakan program peningkatan kompetensi guru yang inovatif dan dikemas dalam bentuk bincang santai. Tayang rutin setiap hari Selasa (minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulannya) pukul 15.00—16.00 WIB. Tiap episode mengangkat tema yang berbeda terkait pengajaran bahasa. Informasi episode SEAQIL Vodcast Live selanjutnya dapat diakses melalui laman dan media sosial SEAQIL. SEAQIL Vodcast Live episode 4 kini sudah dapat ditonton ulang melalui kanal YouTube SEAMEO QITEP in Langauge. (/MR)

×