SEAQIL dan UPI Perdalam Riset Kebijakan Bahasa dan Pendidikan Bahasa di Kawasan Asia Tenggara

Siaran Pers
Jakarta, 24 Agustus 2022

SEAQIL dan UPI Perdalam Riset Kebijakan Bahasa dan Pendidikan Bahasa di Kawasan Asia Tenggara

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melaksanakan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) tahap I Riset Kebijakan Bahasa dan Pendidikan Bahasa di Asia Tenggara pada Rabu (24/08). SEAQIL dan UPI mengundang para pakar dan praktisi bahasa dari Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Thailand sebagai narasumber untuk DKT daring ini.

Pada dua hari awal DKT tahap I, SEAQIL dan UPI mengundang empat belas narasumber dari tujuh negara Asia Tenggara untuk berbagi kebijakan bahasa dan pendidikan bahasa pada negara masing-masing. Di hari terakhir DKT Tahap I, SEAQIL kembali mengumpulkan informasi tentang undang-undang atau peraturan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa daerah, bahasa resmi, bahasa asing, dan pendidikan bahasa di negara-negara anggota SEAMEO. DKT ini mengundang pakar dan praktisi pendidikan bahasa dari empat negara, yaitu Thailand (Krissana Plonghirun & Sari Suharyo), Myanmar (Dr. Kyaw Myint Maung & Dr. Phyu Phyu Thynn), Singapura (Fuad Helmi & Endina Widartama) dan Malaysia (Dr. Muhammad Febriansyah & Dr. Mohd Haizzan Yahaya).

Dr Luh Anik Mayani, Direktur SEAQIL, menyatakan bahwa, “Kebijakan bahasa tidak hanya berarti memilih bahasa mana yang menjadi bahasa nasional, tetapi juga berarti mempertimbangkan peran dan fungsi masing-masing bahasa yang ada, seperti bahasa daerah dan bahasa asing. Komunitas ASEAN diharapkan dapat memupuk identitas kolektifnya dan juga tumbuh bersama menjadi lebih kuat. Kami percaya bahwa bahasa dapat memberikan peran penting dalam membangun komunitas dan kawasan ASEAN yang lebih kuat.”

Narasumber dari Thailand mengungkapkan bahwa bahasa resmi dan nasional di Thailand adalah bahasa Thailand berdasarkan Rencana Strategis Kebijakan Bahasa Nasional (2018—2021). Sebagai tambahan, narasumber kemudian menjelaskan bahwa Thailand memiliki lima jenjang pendidikan, yakni pendidikan pra-sekolah dasar, pendidikan dasar, pendidikan menengah yang dibagi menjadi pendidikan menengah pertama dan atas, serta pendidikan tinggi. Di Myanmar, bahasa resmi yang digunakan adalah Bahasa Myanmar (berdasarkan Konstitusi Republik Persatuan Myanmar 2008, Ayat 15, Pasal 450). Myanmar memiliki empat tingkat pendidikan yang terdiri atas sistem pendidikan, termasuk pendidikan dasar, menengah pertama, menengah atas, dan pendidikan tinggi.

Beralih pada Singapura, narasumber Singapura menjelaskan bahwa negara mereka memiliki empat bahasa resmi dan nasional, yaitu bahasa Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil. Terlebih lagi, Kebijakan Bilingual diperkenalkan di Singapura untuk memastikan bahwa para siswa tidak hanya menguasai bahasa Inggris sebagai bahasa pertama, tetapi juga mempelajari bahasa ibu mereka sebagai bahasa kedua. Selanjutnya, berdasarkan Konstitusi Federal Malaysia, bahasa Melayu adalah bahasa nasional Malaysia. Bahasa nasional juga digunakan sebagai bahasa pengantar utama di semua lembaga pendidikan, kecuali sekolah nasional (daerah) di Malaysia. Selain bahasa nasional, Malaysia memiliki banyak bahasa daerah, termasuk Mandarin, Melayu, dan Tamil. Bisayuh, Iban, dan Kadazandusun adalah bahasa lokal utama di Sabah dan Sarawak.

Di akhir forum diskusi, Luh Anik menyimpulkan bahwa bahasa nasional ataupun bahasa resmi masing-masing negara memiliki peran penting dalam pendidikan, diantaranya sebagai bahasa pengantar dan/atau mata pelajaran wajib pada semua jenjang pendidikan. Untuk bahasa asing, Malaysia, Myanmar, dan Thailand menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa asing utama yang dipelajari pada jenjang sekolah ataupun perguruan tinggi. Pada umumnya, bahasa daerah digunakan atau diperkenalkan pada pendidikan dini dan pengajaran bahasa daerah didasarkan pada lokasi sekolah. Untuk langkah selanjutnya, SEAQIL akan berkolaborasi dengan universitas mitra dan narasumber untuk mengumpulkan data survei dan memulai FGD tahap dua pada bulan September.

Narahubung:
Divisi Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
SEAMEO QITEP in Language
Jalan Gardu, Srengseng Sawah, Jagakarsa
Jakarta Selatan, Jakarta 12640
INDONESIA

Telepon: 021 78884106
Pos-el: ppr@qiteplanguage.org
Laman: qitepinlanguage.org

Twitter: QITEPinLanguage
Instagram: qitepinlanguage
Facebook: qiteplanguage
YouTube: SEAMEO QITEP in Language

 

×