SEAQIL dan Pengajar BIPA Siap Olah Ribuan Kata Untuk Korpus Kamus Pembelajaran BIPA Level 1

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) berupaya menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa lingua franca di Asia Tenggara. Upaya tersebut secara intensif dimulai dengan pelaksanaan berbagai kegiatan berfokus ke-BIPA-an, salah satunya adalah penyusunan korpus kamus pembelajaran BIPA. Pada Jumat (03/12), SEAQIL mengundang pakar pengajaran BIPA dari berbagai institusi secara daring untuk melaksanakan kegiatan lanjutan penyusunan korpus, yakni Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Tahap 2 Pengembangan Korpus Kamus Pembelajaran BIPA Level 1.

Deputi Direktur Program SEAQIL, Esra Nelvi M. Siagian, mewakili Direktur SEAQIL menyambut hangat para pakar penyusun korpus dan berterima kasih atas komitmen yang diberikan untuk mengembangkan korpus kamus pembelajaran BIPA.  Esra menyampaikan, “Kegiatan yang kita lakukan akan berkesinambungan sampai menghasilkan produk. Kami berharap tim ini dapat menyediakan waktunya untuk mewujudkan produk (korpus kamus) yang dapat digunakan bukan hanya oleh pengajar BIPA, namun juga pemelajar BIPA dimanapun ia berada.”

Enam pakar pengajaran BIPA bertukar pendapat dalam penyusunan korpus kamus pembelajaran BIPA level 1.

Para pakar pengajaran BIPA yang terlibat dalam DKT Tahap 2 ini, adalah Choirul Asari (pengajar BIPA mandiri); Christine Permata Sari (Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma); Cynthia Vientiani (LBI FIB Universitas Indonesia); Ellis R. Artyana (Selasar Bahasa); Ni Made Verayanti Utami (Universitas Mahasaraswati); dan Rosmalela Sidik (Pengajar BIPA Mandiri). Setelah berhasil mengumpulkan data mentah sebanyak 20.498 kata, para penyusun kemudian difokuskan untuk memilah dan mengolah data dengan berdasarkan beberapa prioritas informasi tertentu, salah satunya adalah high frequency words (kosakata berfrekuensi tinggi).  

Pada akhir diskusi, SEAQIL dan tim penyusun korpus sepakat untuk fokus mengolah 2.000 kata wajib atau high frequency words yang akan masuk dalam korpus kamus pembelajaran BIPA level 1. Secara spesifik, high frequency words yang dimaksud adalah kata bahasa Indonesia yang banyak digunakan dan bermanfaat bagi pemelajar BIPA. Selain banyak muncul dalam pembelajaran, kata tersebut juga seringkali digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Melalui klasifikasi tersebut, semangat dan rasa percaya diri para pemelajar BIPA diharapkan dapat meningkat. (/fh)

×