SEAQIL bagikan Tips Sukses Tes TOEFL dan IELTS

Dr. Luh Anik Mayani bersama Sotya Mayangwuri dipandu oleh Ratna Nurlaila sebagai moderator

Dr. Luh Anik Mayani (Direktur SEAMEO QITEP in Language) menjadi pembicara pada Sharing Session bertajuk “Kiat Sukses Mendapatkan Program Beasiswa Microcredential” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada Rabu [20/4]. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan mutu guru dan tenaga kependidikan yang kompeten, agen perubahan yang berperan aktif dalam mendukung implementasi kurikulum merdeka belajar, dan menjadi role model yang unggul bagi siswa dalam pendidikan karakter di sekolah.

Sebagai upaya peningkatan profesionalitas guru, Dirjen GTK telah bekerja sama dengan LPDP untuk memberikan beasiswa kepada guru dan tenaga kependidikan sejak 2021, salah satu kategori beasiswa yang ditawarkan ialah ‘Program microdential di luar negeri’. Sotya Mayangwuri (Direktorat Guru Pendidikan Dasar) mengungkapkan bahwa program beasiswa di luar negeri merupakan kursus singkat dengan kurung waktu 3 hari atau 2 hingga 6 bulan yang dilakukan di universitas rujukan di luar negeri.

Pada tahun 2022, beasiswa ini diperuntukkan kepada 200 orang guru dan tenaga kependidikan jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA. Dan masing-masing pendaftar beasiswa bisa memilih 12 universitas rujukan yang tersedia di beberapa negara. “Di tahun 2022 ini, ada 12 perguruan tinggi yang bisa dipilih oleh sahabat GTK, dan masing-masing terletak di lima negara, di Amerika Serikat (8), di Australia (1), Finlandia (1), Hongkong (1), Inggris (1), dan tentunya 12 12 perguruan tinggi ini memiliki reputasi berskala internasional dengan program-program unggulan di setiap bidangnya”.

Lebih lanjut, untuk mendapatkan beasiswa microdential tersebut, dibutuhkannya kemampuan berbahasa Inggris sesuai standar yang ditentukan, “Untuk mempersiapkan pendaftaran beasiswa tersebut dibutuhkan kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni, maka, bagi pendaftar harus mengikuti tes bahasa Inggris, mau itu TOEFL/IELTS dengan skor sesuai persyaratan yang dibutuhkan, kemudian sahabat GTK bisa mendaftar di perguruan tinggi yang dipilih, dan mendapatkan Letter of Acceptence (LOA) sebagai bukti diterima, lalu, pendaftar beasiswa bisa langsung mengunggah persyaratan ke laman resmi GTK, dan tinggal menunggu dihubungi oleh tim jika lolos,” imbuhnya.

Berbicara lebih lanjut seputar tes TOEFL/IELTS, Luh Anik menjelaskan bahwa TOEFL/IELTS merupakan tes kemahiran bahasa Inggris bagi penutur asing (Orang Indonesia) yang diperuntukkan untuk persyaratan mendaftar ke kampus di luar negeri, “TOEFL digunakan sebagai persyaratan mendaftar ke kampus di Amerika, karena berstandar American English, sedangkan IELTS berstandar British English yang diperuntukkan mendaftar ke kampus di Inggris, Selandia Baru, dan Australia misalnya” tuturnya.


Luh Anik sedang memaparkan format tes TOEFL dan IELTS

Lebih lanjut, Luh Anik memaparkan format tes TOEFL dan IELTS dengan lingkup kompetensi (Score, listening, structure, reading, writing, speaking, time). Ia menjelaskan bahwa TOEFL terbagi menjadi 2, yaitu: TOEFL Institutional Testing Program (ITP) dan Internet Based TOEFL IBT. Lalu, ketiga format tes tersebut memiliki perbedaan dari aspek skor, waktu, jumlah soal, dan lingkup kompetensi yang diujikan. Luh Anik menambahkan bahwa untuk penilaian tes TOEFL ITP sesuai dengan standar penguasaan kemampuan bahasa Inggris pada level B1 dan B2, maka rentang skor yang dibutuhkan berkisar 500—550, namun jika disandingkan dengan TOEFL IBT dan IELTS, maka skor minimal yang diperoleh 59—80, dan 5—6 untuk IELTS. “Jika kita telah mencapai taraf penilaian B1/B2, artinya kita dianggap mampu untuk mengikuti pendidikan berbasis bahasa Inggris di universitas luar negeri,” ucapnya.

Selain itu, Luh Anik juga memberikan beberapa referensi belajar TOEFL mandiri yang bisa diakses pada laman internet, seperti; (1) Barron’s TOEFL iBT (2020); (2) Preparation by Trivium Test Prep (2021); (3) Best TOEFL Ibt Prep by The Princeton Review (2021); (4) TOEFL Preparation Books of 2022 (2022); (5) Kaplan’s TOEFL iBT Prep Plus (2021—2022).


Dr. Luh Anik Mayani bersama Sotya Mayangwuri menanggapi pertanyaan dalam sesi tanya-jawab

Luh Anik memberikan tips melalui pertanyaan seputar kiat mengerjakan TOEFL yang baik. Dalam pemaparan jawabannya, ia menjelaskan tips dari bidang yang diujikan. Pada listening, seseorang bisa membaca soal terlebih dahulu sebelum memutar audio percakapan, percakapan tersebut berisi short conversation, longer conversation, atau monolog. Menurutnya, “Dari ketiga jenis topik tersebut, yang paling mudah dikerjakan adalah short conversation, maka, jadikan topik tersebut sebagai peluang memperoleh poin yang maksimal”.

Luh Anih menjelaskan seputar topik reading, “Biasanya pertanyaan yang timbul dalam topik ini menanyakan seputar poin utama, simpulan, informasi detil, dan rujukan, sinonim/antonim, terkadang, jika pertanyaannya seputar poin utama, maka kita harus memperhatikan pada awal paragraf, namun, jika pertanyaannya seputar kesimpulan, maka kita harus memperhatikan pada akhir paragraf, lalu untuk mengetahui sinonim/antonim kita dianjurkan untuk memperkaya kosakata”.

Kemudian untuk writing, Luh Anik mengimbau untuk mengerjakan tugas yang lebih mudah untuk dikerjakan terlebih dahulu. Terakhir, Luh menggarisbawahi bahwa dalam mempelajari materi structure & written expression, seseorang harus menguasai kesalahan-kesalahan yang terstuktur pada suatu kalimat, seperti kesalahan pada bentuk verba, pronomina, dsb.

Sebagai penutup, Luh Anik menekankan bahwa sebelum melaksanakan TOEFL, seseorang harus mengetahui format tes yang akan diikuti, apakah itu TOEFL ITP/IBT, atau EILTS. Dan jangan lupa untuk mempersiapkan diri dengan menguasai materi yang akan diujikan dengan mengorganisasi porsi belajar secara disiplin, serta mengenali kelemahan dan kekuatan diri pada lingkup kompetensi, dan jangan pernah takut sebelum melaksanakan tes TOEFL.

×