SEAQIL ajak peneliti rumuskan kajian pustaka yang tepat dalam penelitian

Kajian pustaka memiliki peran mengkaji atau mengeksplorasi sumber-sumber keilmuan, khususnya terkait topik penelitian yang diangkat. Namun, bagaimana cara memastikan kajian pustaka yang disusun dapat mendukung penelitian? SEAQIL Vodcast Live (SVL) episode 5 seri Penelitian Tindakan Kelas (CAR) yang tayang pada Selasa (5/4) secara khusus mengundang Dr. Ifan Iskandar, M.Hum., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Jakarta, sebagai narasumber dan dipandu oleh Meyrinda Tobing sebagai pewara untuk membahas gagasan kajian pustaka yang relevan untuk mendukung CAR.

Ifan mengungkapkan bahwa kajian pustaka termasuk bagian dari tulisan akademik, mencakup skripsi, tesis, disertasi, maupun proposal dan laporan CAR. Tidak hanya itu, kajian pustaka menunjukkan pemahaman peneliti terhadap topik yang akan diteliti, asas dasar pengembangan aspek metodologi dalam penelitian, relevansi penelitannya dengan penelitian-penelitian terdahulu, dan kontribusi terhadap penelitian yang belum pernah dikaji.

Berbincang lebih lanjut, Ifan secara ringkas menyampaikan bahwa kajian pustaka dapat disusun melalui lima langkah, yakni 1) mencari pustaka atau literatur relevan; 2) mengevaluasi sumber kepustakaan; 3) mengidentifikasi tema, perdebatan, dan celah; 4) membuat kerangka struktur kajian pustaka dan; 5) menulis kajian pustaka.

Dalam mencari literatur yang relevan, seorang peneliti harus mengaitkannya dengan topik yang akan diteliti. Ifan memberikan contoh deskripsi masalah penelitian, “Apakah microlearning dapat meningkatkan keterampilan berbicara dan literasi digital?” pertanyaan tersebut menjadi sebuah ilustrasi bagaimana menyusun suatu kajian yang belum dikenal secara seksama. Lalu, ia menjelaskan secara eksplisit terkait langkah-langkah dalam mencari literatur yang relevan, guna menyusun kajian pustaka yang sesuai dengan isi dari topik yang akan diteliti.

 “Setelah kita mengidentifikasi dan merumuskan pertanyaan penelitian, maka kita harus menyusun kata kunci penelitian kita untuk mencari kajian pustaka. Jika dilihat dari pertanyaan penelitian, ada tiga kata kunci, diantaranya; microlearning, keterampilan berbicara, dan literasi digital. Setelah itu, kita bisa mencari literatur relevan yang diakses di laman browser, seperti google scholar, JSTOR, dsb., dan terakhir kita bisa mengerucutkan kajian-kajian terdahulu sesuai dengan kata kunci penelitian menggunakan teknik boolean operators,” tuturnya.

Lebih lanjut, Ifan menjelaskan bahwa setelah menemukan literatur yang relevan, eksplorasi literatur atau identifikasi pertanyaan-pertanyaan yang diteliti terkait dengan literatur tersebut perlu dilakukan. “Apa pertanyaan-pertanyaan pada penelitian tersebut, konsepnya apa? Teorinya apa? Metodenya apa? Serta hasil dan simpulan penelitiannya apa? Apa kaitannya dengan penelitian lain? Dalam proses tersebut, kita dapat mengutip terkait gagasan utama yang terpaut metode serta data, serta jangan lupa mencantumkan sumber literatur (nama penulis, judul dan nama artikel, tahun publikasi, serta nomor halaman) pada penelitian kita,” kata Ifan.

Hasil identifikasi literatur dapat membantu peneliti untuk menemukan gap atau justifikasi ilmiah terkait tema penelitian yang akan diteliti. Kemudian, peneliti dapat mulai mengembangkan kerangka dan juga isi kajian pustaka. Ifan menekankan bahwa rangkaian langkah penyusunan kajian pustaka ini diharapkan dapat membantu peneliti merumuskan definisi, temuan, atau model satu hasil bacaan agar menjadi pola tersendiri, bukan hanya menyalin definisi. 

Menjawab pertanyaan Aldi Rahman, Institut Daarul Qur’an, terkait kajian pustaka yang berkualitas atau hanya sebuah formalitas dari sebuah penelitian, Ifan menjelaskan bahwa rujukan pustaka harus berorientasi pada penelitian yang dapat memberikan manfaat baru. Ia menambahkan, “Jika kita membuat CAR, apakah tindakan kita tersebut berorientasi pada pendapat para ahli atau pendapat kita? Pastinya pendapat para ahli. Itu berarti, kita harus merujuk kepada penelitian sebelumnya dan itu yang akan menjadi dasar ilmiah dalam penelitian.”

Pada akhir pertemuan, Ifan menyimpulkan bahwa dalam penulisan penelitian ilmiah tidak ada penulisan yang diawali tanpa membaca. Substansi kajian pustaka ialah merumuskan apa yang hendak diteliti dari literatur sebelumnya yang telah dibaca. Maka dari itu, jika ingin menulis kajian pustaka yang baik, mulailah dengan membaca.

..

SEAQIL Vodcast Live merupakan program peningkatan kompetensi guru yang inovatif dan dikemas dalam bentuk bincang santai. Tayang rutin setiap hari Selasa (minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulannya) pukul 15.00—16.00 WIB. Tiap episode mengangkat tema yang berbeda terkait pengajaran bahasa. Informasi episode SEAQIL Vodcast Live selanjutnya dapat diakses melalui laman dan media sosial SEAQIL. SEAQIL Vodcast Live episode 5 kini sudah dapat ditonton ulang melalui kanal YouTube SEAMEO QITEP in Language.

×