SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) berpartisipasi dalam Temu INOVASI NTT #2 “Aktualisasi Merdeka Belajar: Pemanfaatan Bahasa Ibu dalam Pembelajaran bagi Siswa Penutur Bahasa Tunggal” pada Selasa [08/03]. Kegiatan ini merupakan bentuk manisfetasi Merdeka Belajar yang diluncurkan oleh Kemendikbudristek terkait penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa transisi dalam pembelajaran di kelas awal, khususnya pada jenjang pendidikan dasar di pusat maupun daerah. Diskusi ini diselenggarakan oleh INOVASI yang bekerja sama dengan Kantor Bahasa Provinsi NTT, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek, SEAQIL, dan beberapa pemangku pendidikan di tingkat pusat maupun daerah, khususnya di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional.
Pada kesempatan tersebut, Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani menjelaskan terkait praktik Program Transisi Bahasa Mother Tongue-Based Multilingual Education (MTB-MLE) di Asia Tenggara. Luh Anik menjelaskan bahwa anak-anak yang menerima intruksi bahasa ibu di sekolah cenderung mengikuti pendidikan dengan baik, dibandingkan anak-anak yang menerima bahasa asing di sekolah. Luh Anik mengilustrasikan hal tersebut dengan perumpamaan kelompok pertama (menerima instruksi bahasa ibu) yang berhasil menyebrangi jembatan, dan kelompok kedua (menerima intruksi bahasa asing) yang tidak bisa melewati jembatan.
“Hasilnya adalah anak-anak di kelompok pertama bisa melewati jembatan dengan bahasa yang mereka ketahui, dan dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Sedangkan di kelompok kedua, banyak anak-anak yang tidak dapat melewati proses pembelajaran dengan baik, sehingga banyak yang tidak mencapai tujuan pembelajaran,” ujar Luh Anik. Luh Anik menambahkan “UNESCO mengusulkan penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar dalam konteks pendidikan pada masa awal sekolah, selain sebagai bentuk meningkatkan literasi, pemahaman, dan kualitas pendidikan yang lebih baik lagi”.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek, Prof. E. Aminudin Aziz, M.A, Ph.D. menyampaikan bahwa bahasa ibu merupakan faktor instrumental dalam menentukan program pendidikan. Sejalan dengan hal ini, Aminudin menjelaskan bahwa Kemendikbudristek mengangkat tema “Revitalisasi Bahasa Derah” sebagai topik Merdeka Belajar Episode 17 sebagai perayaan Hari Ibu Internasional pada 21 Februari 2022.
Aminudin kemudian berharap penutur muda dapat menjadi penutur aktif bahasa daerah, menjaga kesinambungan bahasa daerah, menciptakan ruang kreativitas, dan menemukan bidang keilmuan baru dari sebuah bahasa dan sastra daerah.
Sementara itu, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, S.Psi., M.Phil., Ph.D. memastikan bahwa manfaat bahasa ibu atau bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran, dapat membantu penguasaan tata bahasa untuk mempelajari bahasa kedua, serta meningkatkan kemampuan literasi dengan mudah dan cepat.
“Dalam penelitian linguistik, anak-anak akan lebih mudah menguasai tata bahasa dan dasar kognisi yang penting untuk pembelajaran dalam memahami bahasa keduanya, jika bahasa daerah (bahasa ibu) mereka dijadikan sebagai pengantar dalam pembelajaran” ungkap Anindito.
SEAQIL mendukung program Kemendikbudristek dalam upaya pemertahanan dan pelestarian bahasa daerah (bahasa ibu) di tengah-tengah pengaruh globalisasi yang mengarah kebarat-baratan, dan juga sebagai perwujudan program MTB-MLE.
Selain bahasa ibu, SEAQIL juga berfokus dalam program pengembangan profesionalisme yang berkualitas bagi guru bahasa (Bahasa Indonesia sebagai Penutur Asing (BIPA), Arab, Jepang, Jerman, dan Mandarin) melalui pengembangan sumber belajar, penelitian dan pengembangan, serta peningkatan kapasitas dan jejaring.
Semua program dan aktivitas SEAQIL diinformasikan melalui laman https://www.qiteplanguage.org/. (TG/MR)