SEAQIL Siapkan Buku Penilaian Pengajaran Bahasa menjadi Praktikal dan Terintegratif

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) meyelenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) Penyusunan Buku Penilaian dalam Pengajaran Bahasa pada Jumat [03/09] sebagai upaya lanjutan dari perancangan kerangka buku yang sudah dilakukan sebelumnya. DKT ini dihadiri oleh tiga ahli dalam bidang penilaian, yakni Dr. Yohanes Mujiyo Harsono (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya), Dr. Hananto (Universitas Pelita Harapan), dan M. Yusri Saad (Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemdikbudristek), untuk menyempurnakan draf buku yang telah disusun oleh tim penulis SEAQIL.

Setelah melakukan survei analisis kebutuhan guru mengenai penilaian pada tahun 2018 dan awal 2021, SEAQIL menemukan bahwa pemahaman guru bahasa akan penilaian masih terbatas dan memiliki berbagai kendala. Selain itu, SEAQIL pernah berdiskusi lebih lanjut dengan para guru bahasa untuk mengetahui ragam teknik penilaian yang digunakan. Hasilnya, guru menggunakan ragam teknik penilaian yang berbeda. Deputi Direktur Program SEAQIL, Esra Nelvi M. Siagian, menyatakan, “Penilaian merupakan salah satu hal yang sensitif dan penting dalam proses pembelajaran bagi guru. Oleh karena itu, buku penilaian ini diharapkan tidak hanya bermanfaat di Indonesia, tetapi juga di Kawasan Asia Tenggara.”

Harsono mengusulkan delapan poin penting dalam prinsip penilaian, diantaranya adalah kejelasan penilaian, bagian integral dari proses belajar mengajar, menggunakan berbagai teknik penilaian, relabel, diikuti tindak lanjut, dan lainnya. Beliau menegaskan bahwa kejelasan kemampuan yang dinilai menjadi dasar dalam pemilihan teknik tes yang digunakan, terutama dalam pemilihan teks dan menyimak.

Hananto kemudian menambahkan, “Jika ada beragam tes, prosedur tesnya akan berbeda-beda dan harus disesuaikan dengan spesifikasi atau tujuan yang ingin dicapai.” Hananto juga berpendapat bahwa penggunaan rubrik yang sama tidak akan menjamin hasil yang sama. Penggunaan rubrik ditujukan untuk meminilasir subjektif guru dalam memberikan penilaian. Sehingga penggunaan rubrik dalam setiap tes tidaklah harus baku.

Selain memberikan masukan mengenai materi dalam draf buku, Yusri menyampaikan bahwa tampilan penyampaian materi akan membantu target pembaca lebih mudah memahami apa yang disampaikan. Sebagai contoh, penggunaan tabel dalam menyampaikan teknik dan bentuk instrumen untuk penilaian keterampilan. Ragam teknik yang disampaikan dapat dituliskan dengan lebih ringkas. Terlebih, penyajian penilaian yang berdampingan bisa menjadi perbandingan agar target pembaca bisa menyesuaikan kebutuhan dengan kondisi pembelajarannya.

Selama diskusi berlangsung, ketiga narasumber sepakat dengan tim penulis bahwa penilaian seharusnya mudah dilaksanakan. Terlepas dari harus menunjukan hasil yang stabil, konsisten, akurat, autentik, dan memberikan pengaruh terhadap proses pembelajaran, penilaian pun harus terintegritas. Hal tersebut secara spesifik merujuk pada kesinambungan tujuan keterampilan yang ingin dicapai. Tindak lanjut penyempurnaan buku penilaian dalam pengajaran bahasa berdasarkan hasil DKT akan dilakukan secara internal oleh tim penulis.

×