SEAQIL Matangkan Penyusunan Silabus Diklat Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA)

SEAQIL menyelenggarakan DKT Penyusunan Silabus Diklat Metodologi Pengajaran BIPA menggunakan moda campuran.

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) kembali melaksanakan rangkaian diskusi kelompok terpumpun (DKT) Penyusunan Silabus Diklat Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Tahap II pada Senin (22/11) dengan menggunakan moda campuran. Diskusi kali ini melibatkan tujuh pakar yang juga merupakan tim konseptor dan 22 peserta yang terdiri atas pengajar ataupun pegiat BIPA di Indonesia dengan fokus pembahasan draf silabus yang dihasilkan pada DKT tahap I, yakni draf silabus kompetensi pedagogis dan kompetensi profesional.

Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani, kembali menegaskan bahwa penyusunan silabus merupakan tindak lanjut dari penyusunan dan diseminasi standar kompetensi pengajar (SKP) BIPA di beberapa lokasi di Indonesia, diantaranya Malang, Yogyakarta, dan Bali. Beliau kemudian menyampaikan harapannya terkait pelaksanaan DKT tahap II, “Draf yang sudah disiapkan baik untuk kompetensi profesional ataupun pedagogis dapat langsung dicermati oleh para peserta. Harapannya, dua silabus yang sedang disusun mendapatkan umpan balik langsung, sehingga diklat yang nantinya akan diselenggarakan SEAQIL, utamanya terkait BIPA, dapat menjawab kebutuhan para pengajar BIPA.”

A.M. Yusri Saad, Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemdikbudristek (kiri) dan Agus Soehardjono, Wisma Bahasa Yogyakarta (kanan), menjelaskan masukan pada draf silabus diklat metodologi pengajaran BIPA.

Diskusi tahap II ini dilakukan dengan sistematika diskusi kelompok berdasarkan dua draf silabus diklat metodologi pengajaran BIPA. Setiap kelompok mendiskusikan masukan dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbangbuk, Kemdikbudristek yang diwakili oleh A.M. Yusri Saad serta mengembangkan beberapa instrumen silabus, seperti penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Dalam kesempatan tersebut, Yusri menekankan bahwa deskripsi kompetensi dan subkompetensi akan menjadi acuan dari tujuan pembelajaran, rancangan kegiatan pembelajaran, hingga perhitungan pertemuan belajar.

Erni C. Westi, Lembaga Bahasa Internasional, Universitas Indonesia (kanan) dan Rahmi Yulia Ningsih, Universitas Bina Nusantara (kiri) memaparkan hasil pengembangan dan perbaikan draf silabus kompetensi pedagogis.

Secara spesifik, pembagian konseptor dalam kelompok diskusi terbagi sebagai berikut, 1) tim pengembang kompetensi pedagogis disusun oleh Erni C. Westi (Lembaga Bahasa Internasional, Universitas Indonesia), Rahmi Yulia Ningsih (Universitas Bina Nusantara) dan Paulina Chandrasari Kusuma (Universitas Atma Jaya) dan 2) tim pengembang kompetensi profesional yang disusun oleh Agus Soehardjono (Wisma Bahasa Yogyakarta), Editia Herningtias dan Agung Prasetia (Lembaga Bahasa Internasional, Universitas Indonesia).

Deputi Direktur Program SEAQIL, Esra Nelvi M. Siagian, menutup DKT Penyusunan Silabus Diklat Metodologi Pengajaran BIPA Tahap II dengan paparan rencana tindak lanjut SEAQIL berdasarkan hasil pertemuan. Esra menyatakan bahwa SEAQIL menyesuaikan dan mempersiapkan diri sesuai dengan kebutuhan terkini, oleh karena itu, pelaksanaan diklat akan diarahkan pada pertemuan sinkron dan asinkron. Beliau kemudian menambahkan bahwa hasil DKT tahap II akan menjadi bekal bagi finalisasi draf silabus yang diharapkan dapat dilaksanakan pada Desember 2021.

 

×