SEAQIL Lakukan Metaanalisis Kebijakan Bahasa dan Pendidikan Bahasa di Asia Tenggara

SEAQIL mengundang Christine Manara, Ph.D. (Program Studi Doktoral Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya) dan Yanti, Ph.D. (Program Studi Magister Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya) pada 18 Mei 2021 guna melakukan metaanalisis paparan kebijakan bahasa dan pendidikan bahasa di Asia Tenggara. Hal ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan SEAQIL Webinar Series on Language: “Language Policy and Language Education in Southeast Asia” yang telah diselenggarakan pada akhir 2020 lalu.

SEAQIL mengundang Christine Manara, Ph.D. (Program Studi Doktoral Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya) dan Yanti, Ph.D. (Program Studi Magister Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya) pada 18 Mei 2021 guna melakukan metaanalisis paparan kebijakan bahasa dan pendidikan bahasa di Asia Tenggara. Hal ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan SEAQIL Webinar Series on Language: “Language Policy and Language Education in Southeast Asia” yang telah diselenggarakan pada akhir 2020 lalu.

Sependapat dengan Yanti, Christine Manara menyatakan selain perguruan tinggi perlu untuk melibatkan lembaga-lembaga pemerintah dan komunitas yang ada di masyarakat sehingga tidak perlu membuat program baru. Menurut Christine, dengan adanya kolaborasi dapat menghadirkan program yang berkesinambungan.

Selain pengajaran bahasa asing, beberapa negara Asia Tenggara seperti seperti Filipina dan Kamboja telah menerapkan pengajaran bahasa ibu. Yanti menggaris bawahi kendala yang dihadapi, yaitu terlalu banyak bahasa ibu yang digunakan di sebuah daerah sehingga sulit untuk menentukan bahasa apa yang digunakan sebagai bahasa pengantar pembelajaran. Di Indonesia sendiri, menurut Yanti, sebelum melakukan pembinaan pembelajaran bahasa ibu untuk guru, perlu ditinjau kembali mengenai ada atau tidaknya materi sebagai bahan ajar, karena masih banyak bahasa yang belum didokumentasikan dengan baik.

Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani, menyimpulkan bahwa kebutuhan pendidikan dan pembelajaran bahasa dapat disesuaikan dengan kebutuhan tiap wilayah. Selain itu, Luh Anik menambahkan, SEAQIL perlu mendesain pembinaan komunitas guru bahasa asing yang berfokus pada peningkatan standar kompetensi guru dengan melibatkan perguruan tinggi di sekitar sekolah mitra. Selain context based learning, menurut Luh Anik community based language learning dapat diterapkan untuk pembelajaran bahasa asing maupun bahasa ibu serta dijadikan dasar pengembangan program peningkatan kapasitas guru bahasa oleh SEAQIL.

SEAQIL berharap hasil metaanalisis dapat digunakan sebagai dasar pemetaan implementasi kebijakan dan pendidikan bahasa di negara anggota SEAMEO yang bermanfaat bagi pengembangan program SEAQIL di masa yang akan datang.

×