SEAQIL Jajaki Kolaborasi dengan Sekolah Vokasi UGM

 

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) dan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan audiensi penjajakan kerja sama pada Rabu pagi [2/6]. Audiensi dipimpin langsung oleh pimpinan tinggi dari lembaga masing-masing, yakni Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani dan Dekan Sekolah Vokasi UGM, Dr.Ing. Ir. Agus Maryono, serta diikuti oleh para pejabat di lingkungan terkait.

Dalam sambutan yang disampaikan oleh Dekan Sekolah Vokasi UGM, Sekolah Vokasi UGM menargetkan pengembangan jejaring dengan SEAMEO Centre di Indonesia, termasuk dalam hal ini, SEAQIL, serta dengan SEAMEO Centre di negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Agus juga menyinggung perihal jejaring yang menjadi poros dalam akselerasi distribusi ilmu pengetahuan yang dikembangkan kedua pihak sebagai upaya mendorong kemajuan di wilayah Asia Tenggara. Menurut Agus, hal ini dapat dicapai melalui jejaring SEAQIL dalam memperluas distribusi ilmu pengetahuan (dari Indonesia) ke Asia Tenggara, termasuk upaya Sekolah Vokasi UGM dalam transformasi internasionalisasi lembaga.

Lebih lanjut, Wakil Dekan Sekolah Vokasi UGM, Dr. Silvi Nur Oktalina, S.Hut., M.Si., menjelaskan bahwa salah satu poin kerja sama antara kedua belah pihak dapat berupa beasiswa kepada mahasiswa asing yang didukung atau melalui SEAMEO Centre di Indonesia untuk jenjang sarjana terapan.

Menyambut baik upaya kerja sama antara SEAQIL dan Sekolah Vokasi UGM, Luh Anik menyampaikan bahwa SEAQIL membuka diri ke semua pihak sepanjang hal yang dikerjasamakan sejalan dengan visi dan misi SEAQIL, serta membawa manfaat bagi pengembangan sumber daya pembelajaran, penelitian dan pengembangan, pembangunan kapasitas, serta pengembangan jejaring.

Luh Anik menambahkan bahwa kerja sama yang dibangun oleh kedua pihak dapat bermanfaat tidak hanya untuk pembangunan pendidikan di Indonesia, tetapi juga di tingkat regional Asia Tenggara. Secara khusus, kerja sama SEAQIL dengan perguruan tinggi mencakup peningkatan dan pengembangan SDM bidang pendidikan, penyelenggaraan Tridarma perguruan tinggi, dan kerja sama terkait pelaksanaan tugas para pihak. Secara khusus, Luh Anik menyoroti upaya Internasionalisasi Bahasa Indonesia di Asia Tenggara dan pemajuan literasi melalui Kampung Bahasa dan Klub Literasi Sekolah.

Dalam sesi diskusi, SEAQIL dan Sekolah Vokasi UGM satu suara dalam hal riset, pelatihan, dan pengabdian masyarakat. Terkait hal ini, Agus menyampaikan ketertarikan Sekolah Vokasi UGM dalam hal pelibatan guru dan dosen (khususnyan dosen vokasi) sebagai penggerak menuju perubahan untuk masyarakat. Agus juga menyampaikan potensi magang dosen dan mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan keilmuan kedua belah pihak.

“Kolaborasi dalam hal guru dan dosen penggerak merupakan ide yang cemerlang yang dapat difasilitasi melalui workshop/pendampingan,” ujar Luh Anik. Bahkan, menurut Luh Anik, Kampung Bahasa/Literasi dapat menjadi community-based learning yang dapat dilaksanakan di desa tertentu. Hal ini tentu senada dengan upaya program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh Sekolah Vokasi UGM.

Mendukung agenda kolaborasi dari SEAQIL, Deputi Direktur Program SEAQIL (Ibu Esra Nelvi Siagian, MM., M.Ed.) dan Deputi Direktur Adiminstrasi SEAQIL (Dr. Misbah Fikrianto), menyoroti potensi kerja sama dalam bidang pendampingan riset guru oleh dosen (perguruan tinggi mitra SEAQIL), pendampingan pengajaran BIPA, dan pemajuan literasi melalui kegiatan pengabdian masyarakat.

Potensi kerja sama kedua belah pihak tentunya masih akan membuka banyak potensi hal-hal yang dapat dikolaborasikan secara nyata. Upaya ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi teknis kerja sama antara kedua belah pihak. (mr)

×