Sesi foto bersama antara SEAQIL dan perwakilan perguruan tinggi mitra.
SEAQIL menyelenggarakan Rapat Koordinasi Program Penelitian Bersama secara daring pada Senin (14/02). Rapat ini merupakan tindak lanjut Pelatihan Metodologi Riset Pengajaran Bahasa yang telah diselenggarakan pada November 2021. Melalui rapat ini, 78 guru bahasa yang merupakan alumni peserta pelatihan berbagi ruang diskusi dan kolaborasi untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dosen dari sepuluh perguruan tinggi mitra SEAQIL.
Dalam sambutannya, Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani, menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah terlibat dan berkomitmen atas pelaksanaan program penelitian bersama. Program ini menjadi salah satu upaya lain dari SEAQIL untuk dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas berbagai pihak, khususnya dalam penelitian.
Luh Anik kemudian menjelaskan latar belakang pemilihan tema penelitian, “SEAQIL memilih tema PTK karena kami ingin mendorong Bapak dan Ibu guru bahasa meningkatkan kompetensi pengajaran di kelas. Guru diharapkan dapat menganalisis permalasahan yang dihadapi dalam pembelajaran, mencari sumber masalah, dan menemukan penyelesaian. Selain itu, program ini juga merupakan wujud dukungan program Merdeka Belajar—Kampus Merdeka (MBKM) bagi para dosen mitra untuk pengabdian pada masyarakat.”

SEAQIL, guru bahasa, serta dosen mitra perguruan tinggi mendiskusikan skema penelitian bersama.
Mewakili kehadiran perguruan tinggi mitra, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Dr. Jumaria Sirait, berbagi harapannya terkait pelaksanaan PTK, “Melalui kegitan ini, kami harapkan para guru bahasa akan menjadi pionir di dunia pendidikan untuk mengetahui permasalahan di kelas masing-masing.” Sejalan dengan Jumaria, Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Tri Indri Hardini, mengajak para dosen yang terlibat dalam program ini untuk dapat menggaet guru-guru menjadi mitra dalam penelitian karena laboratorium yang paling indah bagi pendidik adalah sekolah.
Pertemuan ini setidaknya mengkoordinasikan 78 tim proposal PTK yang terdiri atas guru bahasa Arab (13), Indonesia (23), Inggris (28), Jepang (4), Jerman (7), dan Prancis (3) sebagai penyusun proposal dan dosen pendamping dari sepuluh perguruan tinggi mitra SEAQIL. Secara terperinci, sepuluh perguruan tinggi mitra SEAQIL yang ikut serta dalam program penelitian bersama adalah STAI Masjid Syuhada Yogyakarta, UIN Raden Mas Said Surakarta, Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pamulang, Universitas Pendidikan Ganesha, dan Universitas Pendidikan Indonesia.
Skema penelitian bersama kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh Deputi Direktur Program SEAQIL, Esra Nelvi M. Siagian. Beliau memaparkan bahwa SEAQIL telah memfasilitasi ketersediaan bahan belajar (modul PTK), Pelatihan Metodologi Riset Pengajaran Bahasa, serta beragam wadah publikasi hasil penelitian. Namun, pendampingan dalam penelitian masih belum dapat dilakukan dengan maksimal oleh SEAQIL. Oleh karena itu, kolaborasi yang ditekankan dalam penelitian bersama ini adalah turut sertanya peran dosen sebagai pendamping bagi para guru bahasa.
Setelah tim PTK dibentuk berdasarkan bidang bahasa dan area penelitian, maka tindak lanjut proposal PTK sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab guru dan dosen. Hasil kolaborasi tim PTK diharapkan dapat diikutsertakan dalam seleksi SEAQIL CAR Offer ataupun berbagai macam publikasi SEAQIL, diantaranya LINGO, dan jurnal ilmiah yang rencananya akan terbit di tahun 2022. Terlepas dari publikasi SEAQIL, terbentuknya kolaborasi tim PTK diharapkan dapat pula memperluas jejaring dan kesempatan bagi dosen dan guru untuk dapat mengajukan hibah ataupun publikasi penelitian pada instansi lain. (/FH)