SEAQIL Dukung Penerapan Pendidikan Multibahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMB BBI) di Indonesia

SEAQIL Vodcast Live (SVL) memasuki seri baru pada penayangan episode ke-22.  SEAQIL mengundang Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, Guru Besar Antropolinguistik, Universitas Khairun untuk membahas seri Pendidikan Multibahasa Berbasis Bahasa Ibu (PMB-BBI) di Indonesia: Bagaimana Peluang dan Tantangannya? Episode 22 ini tayang pada Selasa, [15/11] melalui kanal Youtube dan Zoom SEAQIL dan dipandu oleh Meyrinda Tobing.

Memulai topik dengan membahas lanskap sosiolinguistik di Indonesia, Gufran mengungkapkan, “PMB-BBI merupakan salah satu moda pembelajaran dengan memanfaatkan bahasa Ibu sebagai alat untuk mendorong penguasaan kompetensi peserta didik di kelas.”

Dalam pandangan Gufran, Indonesia memiliki tiga kelompok bahasa (triglosia) yaitu:  (1) Bahasa nasional, yakni bahasa Indonesia, (2) Bahasa lintas-etnik, yakni bahasa Melayu tempatan, (3) Bahasa intra-etnik, yakni bahasa Etnik. Menurutnya, lanskap ini harus dipahami oleh penggiat pembelajaran bahasa dalam mempersiapkan PMB-BBI. Menurut Gufran, pemahaman lanskap bisa membantu para penggiat pembelajaran bahasa dalam menyusun satu model belajar yang tepat dan sesuai dengan wilayahnya. 

Sebagai tambahan, Gufran turut berbagi beberapa tantangan umum dalam PMB-BBI. Setidaknya, terdapat tiga tantangan dari triglosia yang bisa menjadi catatan penting bagi penyusun kebijakan dan pelaksana PMB-BBI, yakni 1) jumlah penutur dan ranah penggunaan beberapa bahasa etnik di indonesia terutama di bagian timur makin tergerus, 2) masyarakat urban di perkotaan semakin meninggalkan bahasa etnik dan memilih satu lingua-franca lokal (bahasa bersama), dan 3) bahasa ibu/bahasa pertama sebagian besar anak di perkotaan bukan lagi bahasa etnik.

Oleh karena itu, Gufran memberikan solusi dalam menghadapi tantangan dari PMB-BBI. Untuk sekolah di daerah monolingual (pedesaan), guru diharapkan bisa memahami penggunaan bahasa ibu dari siswa pedesaan tersebut untuk memudahkan siswa saat kegiatan pembelajaran, sedangkan sekolah di daerah multilingual (perkotaan) guru bisa menggunakan lingua-franca (bahasa bersama) sebagai bahasa pengantar di kelas. Selain itu, Gufran juga bersikap positif terkait pengembangan PMB-BBI di Indonesia yang didukung oleh tiga poin peluang, yakni 1) upaya pemerintah dalam preservasi bahasa dari ancaman kepunahan,  2) pengembangan model PMB-BBI oleh lembaga-lembaga kompeten, dan 3) gerakan semangat oleh warga kampung dalam menghidupkan kembali penggunaan bahasa ibu.

Sebagai penutup, Gufran menjelaskan bahwa pemerintah harus turut memastikan bahasa-bahasa etnik di daerah dapat dipelihara dan direvitalisasi agar dapat dimanfaatkan saat penerapan PMB-BBI dalam pembelajaran di kelas. Gufran memberikan sebuah kutipan, ”belajar bahasa sendiri, di kampung sendiri.” Kutipan tersebut untuk memotivasi orang tua yang akan mewariskan bahasa ibu kepada anaknya agar membiasakan anak-anak mereka dalam menggunakan bahasa itu di rumah.

SEAQIL Vodcast Live merupakan program peningkatan kompetensi guru yang inovatif dan dikemas dalam bentuk bincang santai. Tayang rutin setiap hari Selasa (minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulannya) pukul 15.00—16.00 WIB. Tiap episode mengangkat tema yang berbeda terkait pengajaran bahasa. Informasi episode SEAQIL Vodcast Live selanjutnya dapat diakses melalui laman dan media sosial SEAQIL. SEAQIL Vodcast Live episode 22 kini sudah dapat ditonton ulang melalui kanal YouTube SEAMEO QITEP in Language.

×