Peran Bahasa Dalam Peningkatan Literasi Kesehatan Masyarakat: Pahami Bahasanya, Sehat Ginjalnya

Peran Bahasa Dalam Peningkatan Literasi Kesehatan Masyarakat: Pahami Bahasanya, Sehat Ginjalnya

 

Setiap bidang ilmu hanya dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat jika mereka dapat memahami kosakata dan istilah yang digunakan. Dalam konteks pandemi Covid-19, misalnya, bisa jadi penularan penyakit ini menja di sangat tinggi di Indonesia karena kekurangpahaman masyarakat tentang istilah-istilah atau kosakata yang digunakan. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa bahasa dapat memilih peran untuk mempercepat atau mencegah penularan. Asumsinya adalah jika bahasa tidak mampu menjembatani pemahaman masyarakat tentang pandemi Covid-19, tingkat penularan mungkin akan meningkat. Sebaliknya, jika bahasa mampu menjembatani pemahaman masyarakat tentang pandemi Covid-19, pencegahan dapat dilakukan sehingga tingkat penularan akan menjadi lebih rendah.

 

SEAMEO QITEP in Language sebagai organisasi regional antarpemerintah tingkat Asia Tenggara berfokus pada pengembangan kualitas profesional lanjutan bagi guru dan tenaga kependidikan di bidang bahasa. Menyadari pentingnya peran bahasa dalam hal peningkatan literasi masyarakat, tak terkecuali dalam bidang kesehatan, SEAQIL bekerja sama dengan Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) menyelenggarakan webinar dengan tema “Peran Bahasa dalam Peningkatan Literasi Kesehatan Masyarakat: Pahami Bahasanya, Sehat Ginjalnya”.

 

SEAQIL memilih Pernefri karena bulan Maret adalah bulan yang sangat penting bagi kesehatan ginjal. Pada setiap hari Kamis, minggu kedua, bulan Maret, dunia memperingati Hari Ginjal Sedunia. Ketua PB PERNEFRI, dr. Aida Lydia, Ph.D., SpPD-KGH menyampaikan, “di Indonesia masih ditemukan adanya persepsi yang kurang tepat mengenai istilah-istilah berkaitan dengan gagal ginjal. Kata ‘divonis’ sebenarnya sudah diketahui dan digunakan secara umum dalam beberapa kondisi tertentu. Tapi apakah kata tersebut baik digunakan pula dalam bidang kesehatan? Terminologi atau istilah yang lebih tepat digunakan adalah diagnosis jika dibandingkan dengan divonis.” Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu faktor pendukung dari perlunya peningkatan literasi kesehatan.

 

Selanjutnya, Direktur SEAQIL, Dr. Luh Anik Mayani menyampaikan bahwa bahasa berdinamika mengikuti perkembangan zaman. Pesatnya perkembangan istilah asing belum sebanding dengan proses memadankan atau menyosialisasikan istilah tersebut, sehingga masyarakat kesulitan memahami arti bahasa. Selanjutnya, Luh Anik menambahkan, “Dampak rendah literasi adalah kurang pemahaman pencegahan penyakit dan tingkat kepatuhan yang kurang. Melalui peningkatan literasi kesehatan, bahasa mampu menjembatani pemahaman masyarakat dan kemudian pencegahan penyakit dapat dilakukan.”

 

Melalui webinar ini, masyarakat diharapkan mendapatkan informasi tentang bahasa (secara khusus, kosakata dan istilah) yang berkaitan dengan kesehatan, terutama istilah-istilah umum yang sering dipahami secara keliru oleh masyarakat, Selain itu, untuk berpartisipasi menyambut Hari Ginjal Sedunia, webinar ini juga menyajikan materi tentang kesehatan ginjal, khususnya mengenai fakta tentang penyakit ginjal dan kiat jitu mencegah penyakit ginjal. SEAQIL juga berharap webinar ini dapat menjadi wadah bagi institusi kebahasaan untuk mengembangkan peluang kerja sama dengan kementerian di luar Kemendikbud dalam hal peningkatan literasi masyarakat. Webinar dilaksanakan pada hari Rabu, 3 Maret 2021 pada pukul 10.00—12.30 WIB dan dihadiri oleh 141 orang peserta yang merupakan masyarakat umum, seperti pendidik, tenaga kependidikan, siswa/mahasiswa, pemangku kepentingan, dan lain-lain. Webinar juga ditayangkan secara langsung melalui kanal Youtube SEAQIL dan Pernefri.

 

Narahubung
Sdri. Farrah H. (0895412042002)
ppr@qiteplanguage.org

SEAMEO QITEP in Language
Jalan Gardu, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan
Jakarta 12640, INDONESIA
Tel.: 62-21 78884106
Faks.: 62-21 78884073
Pos-el: info@qiteplanguage.org

×