Mari kenali ragam ruang belajar untuk pendidikan bahasa!

SEAQIL Vodcast Live (SVL) telah memasuki episode penutup seri pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa. Episode ke-10 tayang pada Selasa (21/06) dan menghadirkan Dr Gumawang Jati, Presiden iTELL sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung, sebagai narasumber SVL. Pada episode ini, Meyrinda Tobing memandu jalannya bincang-bincang yang mengangkat tema pemanfaatan ruang belajar digital untuk pembelajaran berpusat siswa.

Membuka sesi paparan, Gumawang menjelaskan ada dua macam ruang interaksi dalam kehidupan sehari-hari, yakni ruang fisik (konvensional) dan ruang digital. Lebih lanjut, Beliau memaparkan bahwa ruang kelas yang memiliki bangunan fisik, termasuk perpustakaan, ruang dosen/guru, atau bahkan kedai kopi, memiliki definisi sebagai tempat utama belajar. Namun, seiring kemajuan teknologi, gagasan mengenai ruang kelas berkembang pesat. Perkembangan ruang belajar konvensional tidak ditandai dengan bertambahnya meja atau kursi, namun dengan kemajuan interaksi di dalam kelas. Hal tersebut turut berlaku untuk ruang belajar digital.

Gumawang mengemukakan bahwa pergeseran makna ruang belajar berkaitan dengan perkembangan teknologi. Pesatnya perkembangan internet, Artifical Intelligence, Virtual Reality dan Augmented Reality mengubah dunia, termasuk dunia pendidikan bahasa. Ragam ruang belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau tujuan belajar dalam pendidikan bahasa. “Ruang kelas digital telah mengambil tempat di samping ruang kelas fisik (konvensional). Ruang digital adalah suatu tempat dimana orang dapat berinteraksi dengan menggunakan perangkat digital dalam jaringan. Sebagai tambahan, ruang belajar digital dapat diartikan sebagai tempat siswa dapat berinteraksi dengan materi (kognitif), pengajar/tutor, dan teman (sosial) menggunakan perangkat digital dalam jaringan,” tambah Gumawang.

Guna memfasilitasi ruang belajar digital bagi siswa, guru harus menentukan tujuan pembelajaran terlebih dahulu. Setelah itu, pemilihan ragam ruang belajar dapat menyesuaikan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Gumawang menjabarkan tiga macam ruang belajar dalam konteks pembelajaran, 1) campfire memiliki karakteristik hangat, kegiatan berpusat pada mendengarkan guru; 2) watering hole memiliki karakteristik kegiatan berpusat pada siswa karena fokus pada forum diskusi/orbolan kelompok antar siswa, membutuhkan pertanyaan pemicu diskusi, dan; 3) cave memliki karakteristik sebagai ruang pembelajaran, analisis, sintesis, dan refleksi siswa sebagai individu, dapat digunakan saat menulis jurnal, tes essay, ataupun refleksi lisan/tertulis.

Pada akhir sesi bincang-bincang, dapat disimpulkan bahwa pergeseran makna dan kebutuhan ruang belajar tidak berarti ruang belajar digital lebih unggul dibanding konvensional. Setiap ruang belajar dan interaksi memiliki keunggulan masing-masing. Gumawang menambahkan bahwa keseluruhan proses pembelajaran sebaiknya mengkombinasikan ketiga macam ruang pembelajaran, namun tidak harus dilakukan secara berurutan dan dalam satu waktu. Beliau berharap bukan hanya guru bahasa dan siswa yang saling bergandengan tangan, namun juga seluruh kalangan untuk dapat hidup berdampingan dengan kemajuan dunia digital. (FH)

__

SEAQIL Vodcast Live (SVL) merupakan program peningkatan kompetensi guru yang inovatif dan dikemas dalam bentuk bincang santai. SVL tayang rutin setiap hari Selasa (minggu ke-2 dan ke-4 setiap bulannya) pukul 15.00—16.00 WIB. Tiap episode mengangkat tema yang berbeda terkait pengajaran bahasa. Informasi episode SEAQIL Vodcast Live selanjutnya dapat diakses melalui laman dan media sosial SEAQIL. SVL episode 9 kini sudah dapat ditonton melalui kanal YouTube SEAMEO QITEP in Language.

×