Klub Virtual Bahasa Mandarin SEAQIL wadahi komunikasi lintas budaya

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) telah menyelenggarakan Klub Virtual Bahasa Mandarin (KVBM) pada 14 Maret hingga 12 Mei 2022 dengan alokasi 15 pertemuan. Kegiatan yang membekali peserta dalam pembuatan video animasi sebagai bahan ajar ini resmi ditutup pada Selasa [17/05]. KVBM 2022 diikuti oleh 49 partisipan yang terdiri atas mahasiswa dan lulusan program studi Pendidikan Bahasa, Bahasa dan/atau Sastra Mandarin di Indonesia. KVBM 2022 terselenggara atas kerja sama SEAQIL dengan Global Cultural Adventures (GCA) Tiongkok melalui fasilitasi magang delapan mahasiswa penutur jati bahasa Mandarin.

Mewakili Dewan Direksi SEAQIL, Kepala Divisi Pelatihan dan Pengembangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Talitha Ardelia Syifa Rabbani menyampaikan apresiasi kepada para peserta dan semua pihak yang terlibat dalam KVBM. Talitha mengajak para peserta untuk dapat memberikan evaluasi untuk meningkatkan kualitas dan manfaat program KVBM.

“Pelaksanaan KVBM ini telah menghasilkan 24 video animasi. Dalam kegiatan ini, partisipan tidak hanya mengikuti kegiatan saja, tetapi juga dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Hasil video ini tentunya juga bisa digunakan sebagai bahan ajar/belajar oleh para pengajar/pemelajar bahasa Mandarin”, papar Talitha.

Talitha juga mengungkapkan bahwapeserta difasilitasi untuk meningkatkan kompetensi profesional, kompetensi pedagogis, dan kompetensi sosial. Ketiga kompetensi ini menjadi kemampuan dasar yang bermanfaat bagi partisipan tidak hanya saat berkuliah, tetapi juga saat meniti karir.

Selain itu, dari hasil kuesioner evaluasi, hampir seluruh peserta menyetujui bahwa kemampuan berbahasa Mandarin mereka meningkat ketika mengikuti program ini. KVBM juga meningkatkan keterampilan peserta dalam berkolaborasi untuk memperluas jejaring dengan peserta lain dan fasilitator dari Tiongkok. Ini karena karena sistem pelatihan membagi 49 peserta ke dalam beberapa kelompok yang berisi peserta lain yang berasal dari universitas yang berbeda dan dibawahi oleh pembimbingan dari fasilitator penutur jati.

Salah satu peserta, Dwi Nurul Zahra mengungkapkan, “Awalnya memang agak sulit untuk berkoordinasi dengan peserta dan fasilitator karena belum saling mengenal.  Setelah ada interaksi, salah satu manfaat yang saya lihat dari program ini adalah menambah relasi.”

Adira Salsabila Purnomo berkomentar “KVBM meningkatkan pemahaman kita (tentang bahasa Mandarin), ini karena sesuatu yang mungkin awalnya kita tidak tahu, lalu tahu disaat benar-benar langsung berkomunikasi dengan penutur jati”.

Peserta lain, Muhammad Sadi Gunawan, juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada SEAQIL atas kesempatan pelatihan dan pengalaman yang bermanfaat dalam pembuatan video animasi sebagai bahan ajar. Mereka berharap kegiatan semacam ini akan terus diselenggarakan.

Salah satu mahasiswa magang dari GCA, Rui Ma menyampaikan, “Komunikasi lintas budaya yang difasilitasi melalui KVBM bagi saya sangat bermanfaat karena saya mengenal begitu banyak budaya yang berbeda di Asia Tenggara atau di luar Cina. Saya mengenal orang-orang hebat dan luar biasa. Saya pikir saya di sini tidak hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk belajar. Kami juga membuat kegiatan Open Talk menggunakan bahasa Mandarin untuk mendiskusikan satu atau dua topik. Saya telah melihat persamaan dan perbedaan antar budaya dan menemukan banyak ide dan pemikiran yang menarik dan menginspirasi dari para peserta. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada SEAQIL dan kepada GCA yang telah memberikan saya kesempatan untuk melakukan perjalanan yang luar biasa”.

Penutupan KVBM ini juga turut serta dihadiri oleh Melinda Ma, Direktur Departemen Bisnis International, GCA Tiongkok. Melinda Ma mengungkapkan, “Terima kasih atas kepercayaan SEAQIL atas kemitraan yang dijalin. Saya harap, kita bisa membuat kemajuan bersama. Atas nama GCA, saya dengan tulus mengharapkan kerja sama jangka panjang yang berkelanjutan untuk berkontribusi pada pembelajaran bahasa dan pertukaran persahabatan antar negara kita”. (AA/MR)

 

×