SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman pada Jumat (22/10). Penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) ini mengawali kerja sama kedua institusi dalam pemajuan pendidikan di Indonesia khususnya dalam pengembangan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM), Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), program kebahasaan dan literasi serta program lainnya yang mendukung pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi.
Acara penandatanganan Nota Kesepahaman antara SEAQIL dan UNESA dihadiri oleh jajaran pimpinan di lingkungan UNESA, yakni Wakil Rektor Bidang Akademik (Prof. Dr. Bambang Yulianto), Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama (Dr. Sujarwanto), Ketua Office International Affairs (Asrori, M.Pd.), Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (Dr. Trisakti), Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris (Pratiwi Retnaningdyah, Ph.D.), Ketua BIPA UNESA (Octo Dendy, M.Pd. serta staf kerja sama. Dari SEAQIL, selain Direktur SEAQIL (Dr. Luh Anik Mayani), tampak hadir Deputi Direktur Administrasi (Dr. Misbah Fikrianto), Deputi Direktur Program (Esra Nelvi M. Siagian, M.M., M.Ed.) serta staf kerja sama.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Dr. Luh Anik Mayani (Direktur SEAQIL) dan Pembubuhan paraf oleh Dr. Sujarwanto selaku Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerja Sama (tengah), didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Bambang Yulianto (kiri) dan Ketua Office International Affairs, Asrori, M.Pd. (kanan)
Prof. Dr. Bambang Yulianto dalam sambutan mewakili Rektor UNESA mengatakan bahwa sebagai bagian dari Kemendikbudrisgtek, kampus-kampus di Indonesia sudah dilekatkan dengan program MBKM. Hal tersebut ikut mendorong UNESA untuk menjadi kampus merdeka yang memberikan kemerdekaan bagi mahasiswanya untuk belajar di luar kampus. Hal itu berarti bahwa UNESA harus menjalin kerja sama dengan pihak-pihak di luar kampus. Kerja sama dengan berabagai pihak di luar UNESA akan memberikan kesempatan tidak hanya kepada mahasiswa tetapi juga para dosen untuk belajar menerapkan ilmu di luar kampus dan begitupun dengan kampus mulai terbuka untuk menerima unsur-unsur praktisi masuk dalam kehidupan kampus. “Oleh sebab itu, saya mendorong Dekan FBS dan Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Inggris hadir di sini untuk memperbanyak jumlah praktisi yang mengajar atau memberikan kuliah tamu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang efisien dan efektif melalui moda daring sehingga dapat menampung audiens dalam jumlah besar”, ujar Bambang. Lebih jauh, Prof Bambang menyatakan bahwa inti dari pertemuan dua belah pihak adalah komitmen bersama dalam mengimplementasikan MBKM serta program lain guna menyiapkan generasi penerus bangsa.
Dr. Sujarwanto sangat mengapresiasi terwujudnya kerja sama dengan SEAQIL dalam rangka pengembangan program MBKM. ”Diharapkan MoU dapat segera ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama yang dapat dilakukan tidak hanya di tahun ini tapi tahun depan”, imbuhnya.
Menanggapi sambutan dari UNESA, Luh Anik menyatakan bahwa MBKM sudah seperti salah satu kewajiban bagi SEAQIL. “Program dan kegiatan SEAQIL dibuat agar selaras dengan agenda SEAMEO dan Kebijakan Kementerian Pendidikan, kebudayaan, riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Oleh sebab itu, untuk mendukung program MBKM, SEAQIL memiliki program Klub Literasi Sekolah (KLS). KLS menjadi peluang mahasiswa untuk mempraktekkan ilmu yang didapat di kampus”, kata Luh Anik.
Peluang kerja sama antara SEAQIL dan UNESA diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengembangan program MBKM, pengembangan program kebahasaan dan literasi serta program lain dalam upaya ikut serta dalam pemajuan pendidikan Indonesia.