Empat KBRI di Asia Tenggara dukung penelitian kebahasaan SEAQIL

SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) bersama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) diBangkok, Kuala Lumpur, Singapura, dan Yangon melaksanakan rapat koordinasi Research on Language Policy and Language Education in Southeast Asia pada Rabu (22/06). Rapat dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan dihadiri oleh perwakilan SEAQIL (Deputi Direktur Program, Deputi Direktur Adiministrasi, dan staf SEAQIL) dan perwakilan dari keempat KBRI, yakni 1) Mokh. Farid Maruf, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI di Kuala Lumpur, Malaysia; 2) Bob Felix Tobing, Pelaksana Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) dan Dr Kyaw Myint Maung staf Pensosbud KBRI di Yangon; 3) Sari Suharyo, staf Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI di Bangkok, Thailand, dan; 4) Fuad Helmi, staf Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI di Singapura.

Pada rapat, Esra Nelvi M. Siagian (Deputi Direktur Program SEAQIL), menyampaikan latar belakang dan tujuan Research on Language Policy and Language Education in Southeast Asia secara umum. Esra lalu menyampaikan grand design penelitian dan skenario pengumpulan data yang terdiri atas pengisian instrumen, Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) tahap 1, pendistribusian kuesioner, dan DKT tahap 2. Selanjutnya, Esra menyampaikan harapan agar KBRI di Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, dan Yangon dapat mendukung SEAQIL dalam proses pengambilan data penelitian di keempat negara tersebut.


Deputi Direktur Program SEAQIL, Esra Nelvi M. Siagian, membuka dan menyampaikan tujuan rapat

Menanggapi Esra, Bob Felix Tobing menyambut baik upaya SEAQIL untuk melibatkan KBRI dalam penelitian kebahasaan. Felix menyatakan bahwa hal ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Indonesia untuk membangun persahabatan antarnegara dalam bidang budaya, terutama bahasa. Felix menegaskan bahwa KBRI di Yangon setuju untuk membantu pengumpulan data penelitian SEAQIL. Sebagai tambahan, Felix menjelaskan bahwa bahasa Myanmar merupakan bahasa nasional yang menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan di Myanmar. Selain itu, bahasa Indonesia belum dipelajari di sekolah-sekolah di Myanmar.

Tanggapan selanjutnya datang dari Sari Suharyo yang menyatakan keterbukaan atas gagasan penelitian kebahasaan SEAQIL. Sari menjelaskan bahwa Thailand memiliki beberapa kebijakan bahasa yang dibuat oleh pemerintah Thailand dan didukung oleh Office of the Royal Society. Beberapa kebijakan bahasa tersebut antara lain:

  1. mendukung penggunaan bahasa Thai oleh masyarakat Thailand,
  2. mendukung pembelajaran bahasa ibu, khususnya di sekolah-sekolah, dan
  3. mendukung masyarakat Thailand untuk belajar bahasa asing.

Rapat berlanjut dengan dukungan dari Fuad Helmi untuk pelaksanaan penelitian kebahasaan SEAQIL. Fuad menginformasikan bahwa bahasa nasional Singapura merupakan bahasa Melayu. Namun, masyarakat Singapura menggunakan bahasa Inggris dalam kegiatan sehari-hari, termasuk dalam bidang pendidikan. Fuad menambahkan bahwa siswa diwajibkan untuk mempelajari bahasa ibu masing-masing. Beliau memaparkan adanya kurikulum untuk mempelajari bahasa Indonesia di jenjang SMP dan di jenjang perguruan tinggi, salah satunya di National University of Singapore.

Tanggapan terakhir berasal dari Mokh. Farid Maruf yang menyetujui untuk membantu SEAQIL dalam proses pengambilan data penelitian. Farid mengungkapkan bahwa sejak Desember 2021, Malaysia sedang menggalakkan penggunaan bahasa Melayu Malaysia, yang merupakan bahasa nasional, untuk kegiatan resmi.


Perwakilan KBRI di Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, dan Yangon berfoto bersama dengan tim SEAQIL

Dapat disimpulkan bahwa perwakilan KBRI di Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, dan Yangon, mendukung dan berkomitmen untuk membantu SEAQIL dalam proses pengambilan data penelitian. Pada akhir rapat, para peserta setuju untuk menyelenggarakan DKT sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah disepakati sebagai bentuk tindak lanjut rapat koordinasi ini.

×